Forgot Password Register

Indonesia Kalah Gugatan Kemasan Rokok di WTO

Ilustrasi (Pixabay) Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan kekalahan Indonesia di sidang gugatan kebijakan pemerintah Australia tentang kemasan rokok polos di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sudah diperkirakan sejak awal.

"Gugatan itu kental membawa misi dan kepentingan bisnis industri rokok. Jadi bukan kepentingan seluruh rakyat Indonesia yang 70 persennya bukan atau tidak merokok," kata Tulus Abadi, Kamis (5/7/2018).

Baca juga: Telisik Masalah Ekonomi, Jokowi: Ekonomi Dunia Sulit Dikalkulasi

Tulus mengatakan kebijakan pemerintah Australia tentang kemasan rokok polos pada 2010 adalah kebijakan nasional untuk melindungi rakyatnya dari dampak buruk rokok.

Karena itu, akan dianggap aneh bila kebijakan sebuah negara untuk melindungi kesehatan rakyatnya malah digugat.

"Justru gugatan itu menunjukkan negara penggugat yaitu Indonesia, tidak mendukung kesehatan rakyatnya sendiri," ujarnya.

Menurutnya, langkah pemerintah Indonesia menggugat kebijakan Australia tentang kemasan rokok polos itu merupakan langkah konyol dan memalukan dari segi adab internasional.

Baca juga: Ini Hitungan Tarif Integrasi Tol Jorr Sesuai Golongan, Cekidot!

Pasalnya, seluruh dunia saat ini sedang berpacu untuk mengendalikan konsumsi rokok. Terbukti telah ada 188 negara di dunia, atau 90 persen negara di dunia, yang telah meratifikasi atau mengaksesi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC).

"Jadi gugatan pemerintah Indonesia merupakan tindakan melawan arus yang menjadi bahan tertawaan dunia. Lihat saja, yang terlibat dalam gugatan tersebut adalah negara-negara kecil dan tidak mendapat dukungan dari negara-negara besar dunia," ungkapnya.

Sidang WTO menolak gugatan pemerintah Indonesia, bersama Kuba, Honduras dan Republik Dominika; tentang kebijakan kemasan rokok polos yang diambil pemerintah Australia.

Pemerintah Indonesia mendalilkan kebijakan pemerintah Australia itu telah melanggar hak cipta dan kekayaan intelektual serta melanggar merek dagang produk tembakau.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More