Pantau Flash
Penyitaan Narkoba Terbesar di Malaysia: 3,7 Ton Senilai USD161 Juta
Sebelum Ada BBM 1 Harga, Premium di Nusa Ceningan Bali Rp10.000 per Liter
Dirut BPJS Kesehatan Bicara Soal Iuran: Kita Menyesuaikan dengan Hitungan
Jembatan George Washington Ditutup Setelah Ada Ancaman Bom
BMKG Sebut Ada 151 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat

290 Imigran Gelap DIamankan Penjaga Pantai di Tripoli Libya

290 Imigran Gelap DIamankan Penjaga Pantai di Tripoli Libya Imigran gelap. (Foto: Reuters/Hani Amara)

Pantau.com - Penjaga pantai Libya menyelamatkan 290 migran dari perahu-perahu karet pada Jumat dalam dua operasi di dekat Tripoli, ibu kota negeri itu, kata seorang juru bicara Angkatan laut.

Pantai barat Libya adalah tempat keberangkatan utama ratusan ribu migran yang menyelamatkan diri dari perang dan kemiskinan di negeri-negeri mereka untuk mencapai pantai Italia.

Satu kapal penjaga pantai menyelamatkan 87 migran dari lepas pantai Qarabuli, kota kecil yang berada 50 kilometer di sebelah timur Tripoli, dari sebuah perahu karet, kata Juru Bicara Angkatan Laut Ayoub Qassem.

Baca juga: Di DK-PBB, Indonesia Desak Gencatan Senjata di Libya

Penjaga pantai tersebut adalah bagian dari Angkatan Laut Libya. Satu kelompok yang terdiri atas sebanyak 203 migran diselamatkan dari dua perahu karet di lepas pantai Ziltin, kota kecil yang terletak 160 kilometer di sebelah timur Tripoli, kata Qassem.

"Semua migran ditemukan berpegang pada perahu yang pecah dan lusuh. Mereka diselamatkan oleh patroli penjaga pantai dengan dua kapal berbeda," kata Qassem.

Semua migran itu telah diserahkan kepada departemen yang menangani migrasi tidak sah setelah mereka turun di dua kota, Khomaz dan Janzur, kata Qassem. Mereka berasal dari beberapa negara Arab dan Sub-Sahara, termasuk tujuh perempuan dan satu anak kecil.

Baca juga: Kelompok Bersenjata Serang Ladang Minyak Terbesar Libya

Setelah kesepakatan yang didukung Italia tercapai, jumlah orang yang menyeberang telah turun tajam sejak Juli 2017, yaitu ketika penyelundup manusia diusir oleh satu kelompok bersenjata dari pusat penyelundupan di Kota Sabratha di Tripoli Barat.

Negara Afrika Utara yang kaya akan minyak itu terjerumus ke dalam kekacauan, delapan tahun setelah aksi perlawanan dukungan NATO berlangsung. Aksi tersebut menggulingkan penguasa lama Libya, Muammar Gaddafi, 2011.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: