Pantau Flash
Indonesia Buka Kantor Konsul Kehormatan Pertama di St Christopher dan Navis
Kapten Persija Akui Perubahan Pelatih Pengaruhi Performa Tim
Ada UU Pangan, Pengusaha Tekstil Pertanyakan Kapan Kemunculan UU Sandang
Di Tengah Krisis Boeing, Airbus Malah Tingkatkan Kerja Sama di China
Lebanon Bebaskan Satu Orang yang Dituduh Ingin Ledakkan Bandara Sydney

AFPI: Kebutuhan Pinjaman Warga di Indonesia Capai Rp1.600 Triliun

AFPI: Kebutuhan Pinjaman Warga di Indonesia Capai Rp1.600 Triliun Mata Uang Rupiah. (Foto: Instagram/Bank Indonesia)

Pantau.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkap masih ada celah pembiayaan atau dana pinjaman di Indonesia. Khususnya untuk masyarakat yang tidak terjangkau atau tidak terlayani oleh bank (unbankable/unreserved).

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mencatat kebutuhan pembiayaan di Indonesia mencapai Rp1.600 triliun. Sementara yang terlayani oleh perbankan baru Rp600 triliun.

Baca juga: Jika Tiket Pesawat (Masih) Mahal, Mudik Lewat Tol Diprediksi Padat

Sehingga kata dia, celah yang mencapai Rp1.000 triliun menjadi peluang besar bagi platform Financial Techology (Fintech) Peer to Peer (P2P) Lending. 

"Ada kekurangan pembiayaan atau gap Rp1.000 triliun. Fintech mau menyasar kesana," ujarnya dalam diskusi yang di Hardrock Cafe Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Pihaknya mencatat peluang di industri ini masing cukup tinggi. Pasalnya, meski fintech pinjaman atau pinjaman online tumbuh luar biasa dalam dua tahun berturut-turut 2017-2018.

Baca juga: Sepertiga Orang AS Tak Punya Tabungan! Awas, Bisa Terjadi di Hidupmu

Di mana jumlah penyaluran pinjaman meningkat 802,32 persen dan 784,3 persen yoy (year on year), namun realisasi pembiayaan melalui fintech P2P Lebih saat ini masih kecil dibandingkan gap yang ada. 

"Tahun 2018 akhir akumulatif Pembiayan P2P landing hanya sebesar Rp22 triliun dan pada akhir Januari menjadi Rp25 triliun masih kecil dari gap Rp1.000 triliun," pungkasnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: