Forgot Password Register

Aktivis: Pentagon Penyumbang Karbon Terbesar di Dunia

Aktivis: Pentagon Penyumbang Karbon Terbesar di Dunia Pemandangan udara markas militer Pentagon. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Organisasi Antarpemerintah PBB tentang perubahan iklim dan ilmuan dari Amerika Serikat telah membunyikan alarm dalam beberapa minggu terakhir dengan laporan tentang bahaya dan potensi dampak perubahan suhu dan meningkatnya permukaan laut.

Koordinator Jaringan Global Terhadap Senjata dan Tenaga Nuklir Luar Angkasa Bruce Gagnon membahas perubahan iklim yang terjadi di Amerika Serikat, salah satunya Pentagon, yang merupakan organisasi terbesar dunia.

"Pentagon, militer AS, menghasilkan karbon terbesar atau bootprint di seluruh dunia," kata Gagnon, yang merupakan veteran militer Amerika Serikat, seperti dilansir Sputnik, Kamis (6/12/2018).

Baca juga: Jadi Negara Minim Emisi CO2, Afrika Justru Rentan Terpapar Global Warming

Menurut Union of Concerned Scientist, militer Amerika menggunakan lebih dari 100 juta barel minyak setiap tahunnya untuk bahan bakar pesawat, kapal, dan kendaraan.

Ketika Protokol Kyoto pertama ditandatangani, AS menolak untuk mendatanganinya kecuali Pentagon mendapat pengecualian. Militer AS berkontribusi besar bagi pemanasan global," kata Gagnon.

Pada Desember 1997, perwakilan dari lebih 150 negara mengadakan pertemuan di Kyoto, Jpenag, di mana mereka melakukan perjanjian internasional pertama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, dengan fokus khusus pada karbon dioksida. Perjanjian akhir ditandatangani oleh 37 negara-negara Eropa yang berpartisipasi, dengan tujuan memotong emisi gas rumah kaca sebesar lima persen. Meski demikian, AS justru tidak meratifikasi protokol Kyoto, dengan kesepakatan final pengeculaian militer AS tidak harus mengurangi emisi karbon mereka.

Baca juga: AS Satu-satunya Negara yang Tolak Kesepakatan Perubahan Iklim di KTT G20

"Kegiatan militer AS untuk melindungi perdagangan minyak internasional, yang merupakan komponen langsung produksi untuk mengimpor minyak asing, yang diperlukan untuk tanker," ucap peneliti Adalm Liska danRichard Perrin dari University of Nebraska-Lincoln dalam studi 2010.

"Perkiraan konservatif kami dari emisi militer sendiri menimbulkan meningkatkan emisi gas rumah kaca yang berasal dari impor minyak di Timur Tengah dari 8 hingga 18 persen," ucapnya.

Tapi ini belum jumlah total gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan militer. Gagnon mengatakan bahwan jumlah itu belum ditambah dengan konversi militer AS yang terus berlangsung.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More