Forgot Password Register

Apa Pertimbangan BI Naikan Suku Bunga Acuan 2 Kali?

Apa Pertimbangan BI Naikan Suku Bunga Acuan 2 Kali? Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (tengah) (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Dalam Rapat Dewan Gubernur Tambahan, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Ini merupakan kenaikan kedua yang dilakukan BI dalam satu bulan.

Sebelumnya, BI hanya menaikkan suku bunga acuan di posisi 4,5%. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, dalam hal ini pihaknya memiliki latar belakang sehingga menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25%.

Perry melanjutkan bahwa, kebijakan ini sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

Baca juga: Sah! BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75 Persen

"Tekanan terhadap stabilitas sejak awal Februari lebih karena tren kenaikan suku bunga AS dan meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS dan sejumlah risiko geopolitik," di Gedung BI, Rabu (30/5/2018).

Namun, ia juga menegaskan keputusan kenaikan suku bunga ini merupakan kebijakan jangka pendek Bank Indonesia yang memprioritaskan kebijakan moneter pada stabilitas khususnya untuk nilai tukar rupiah.

"Respons kebijakan suku bunga akan tetap ditempuh secara pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, di samping tetap konsisten dengan upaya menjaga inflasi 2018-2019 agar terkendali sesuai sasaran," tegasnya.

Baca juga: BI Gelar RDG Tambahan, Apakah Suku Bunga Acuan Naik Kembali?

Kemudian, intervensi ganda (dual intervention) di pasar valas dan di pasar surat berharga negara (SBN) terus dioptimalkan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Dalam hal ini, BI melakukan penyesuaian harga di pasar keuangan secara wajar, dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang.

"Strategi operasi moneter diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan pasar swap antar bank," ujarnya.

Pasca keputusan ini, BI terus melakukan komunikasi intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional sehingga dapat memitigasi kecenderungan nilai tukar rupiah yang terlalu melemah (overshooting) dibandingkan dengan level fundamentalnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More