Pantau Flash
Selamat Tinggal.... Bioskop XXI di Taman Ismail Marzuki Stop Operasi
Ketua MPR: UU Buatan DPR dan Pemerintah Banyak yang Salahi UUD 1945
Bom Bunuh Diri Terjadi di Ibu Kota Afghanistan, 63 Orang Tewas
Pratu Sirwandi, Prajurit TNI Korban Penembakan KKSB di Papua Gugur
Prabowo: Rencana Pemindahan Ibu Kota Sudah Digodok Gerindra Sejak 2014

Berangkatkan 700 Pekerja ke Mesir Secara Ilegal, Dua Pria Dicokok Polisi

Berangkatkan 700 Pekerja ke Mesir Secara Ilegal, Dua Pria Dicokok Polisi Ilustrasi tindak kriminal (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri, meringkus dua pria lantaran terlibat kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ke wilayah Kairo, Mesir. Keduanya yakni, Een Maemunah dan Ahmad Syaifudin alias Udin.

Direktur Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nico Afinta menyebut kedua tersangka telah memberangkatkan ratusan orang secara ilegal yang dijadikan sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

"Para tersangka memberangkatkan 700 pekerja ilegal ke Kairo, Mesir," kata Nico di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (16/7/2019).

Baca juga: Terlibat Kasus Politik Uang, Caleg Gerindra Jadi Buronan Polisi

Dalam proses pemberangkatan ratusan orang itu, para tersangka menggunakan jalur udara melalui Batam-Kuala Lumpur-Kairo. Selain itu, untuk mengelabui para korbannya, kedua tersangka menjanjikan upah yang cukup besar.

Namun, kedua tersangka memiliki peran yang berbeda. Untuk, Een berperan sebagai perekrut dengan keuntungan yang didapatnya Rp5 juta per bulan. Sedangkan tersangka Udin mendapatkan keuntungan Rp12 juta per bulan dengan peranannya sebagai agen dan sponsor.

"Korban direkrut saudara Een untuk bekerja di Mesir dengan uang fit senilai Rp7 juta," kata Nico.

Baca juga: FPI Sebut Pemerintah Minta Saudi Cekal Rizieq, Ferdinand: Tak Masuk Akal!

Lebih jauh, Nico juga menyebut bahwa beberapa orang yang diberangkatkan secara ilegal itu kerap mendapat perlakuan kasar oleh majikannya.

Bahkan, satu di antaranya meninggal dunia. Hal itu disebabkan tekanan pekerjaan yang sangat berat sehingga akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya.

"Korban atas nama Nadya Pratiwi meninggal dunia akibat mendapat tekanan yang sangat berat saat bekerja dan akhirnya loncat kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal," ungkap Nico.

Atas perbuatannya kedua tersangka dikenakan Pasal 4, 7 ayat (2) Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan atau Pasal 81, 86 Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia (PPMI).



Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Adryan Novandia
Reporter
Rizky Adytia Pramana
Category
Nasional

Berita Terkait: