Forgot Password Register

Berbeda Dengan Swasta, Ini Prediksi Ekonom Soal Utang Luar Negeri Negara

Bank Indonesia (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi) Bank Indonesia (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Bank Indonesia (BI) mencatat data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia kuartal I-2018 sebesar USD 358,7 miliar atau setara dengan Rp4.806,58 triliun (kurs rupiah APBN 2018 Rp. 13.400/dolar AS.

Jumlah ini tumbuh 8,7% lebih kecil jika dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 10,4%.

Pertumbuhan ULN bulan Maret/tw I 2018 mengalami anomali dimana growth ULN swasta dibanding Februari justru turun -0,45 persen (mtm) USD 174 miliar atau sebesar Rp2331,6 triliun. Sementara ULN pemerintah dan bank sentral terus mengalami kenaikan meskipun hanya sebesar 1,8 persen (mtm) sebesar USD 184,7 miliar atau sekitar Rp 2.474,98 triliun.

Baca juga: 50% Pembayaran Zakat Diprediksi Beralih ke Non Tunai

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor swasta memang sedang mengerem ekspansi.

"Faktor utamanya karena ada kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah mengakibatkan resiko gagal bayar naik," ujarnya saat dihubungi pantau.com, Rabu (16/5/2018).

Sementara kondisi sektor riil menurutnya, masih dalam tahap pemulihan yang lambat. Hal tersebut kata Bhima, dibuktikan dari pertumbuhan PDB hanya 5,06 persen dan konsumsi rumah tangga 4,95 persen dibawah ekspektasi. 

"Swasta berpikir biaya produksi pasti naik karena kebutuhan bahan baku impor menjadi mahal, daya beli masyarakat masih lambat. Jadi buat apa menambah penerbitan utang valas baru. Lebih baik restrukturisasi utang lama dengan memperpanjang tenor jatuh tempo," terangnya.

Bhima menambahkan, untuk ULN sektor publik terutama pemerintah, problemnya adalah kenaikan yield Treasury 10 th di AS terus mengalami kenaikan, menyesuaikan ekspektasi kenaikan Fed rate.

"Investor akhirnya berpikir rasional untuk mengurangi pembelian SBN dengan alasan kupon SBN kurang menarik. Ini tercermin dari penjualan SBN beberapa seri terakhir yang kurang laris," katanya.

Selain itu, implikasi dari perlambatan ULN pemerintah juga dinilainya membuat kebutuhan pembiayaan tahun ini terancam tidak mencapai target.

Baca juga: Wow! Selama Puasa, Baznas Targetkan Himpun Dana Rp3 Triliun

"Pemerintah harus putar strategi untuk menutup pembiayaan antara lain gunakan SILPA dari serapan belanja yang ditahan. Tentunya ini akan berpengaruh juga ke defisit anggaran," ungkapnya.

Seperti diketahui, per triwulan I 2018 DSR tier I nya sebesar 25,67 persen terus mengalami kenaikan tipis dari triwulan ke IV 2017 yakni 25,62 persen. Indikator DSR yang aman menurut IMF adalah 25 persen. Di level ASEAN sendiri DSR Indonesia tergolong cukup tinggi mengindikasikan pemanfaatan ULN belum signifikan dorong kinerja ekspor.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More