Forgot Password Register

Berikan Data Keamanan Nasional ke China, Mantan Mata-mata AS Ditangkap

Ilusttasi borgol. (Pantau.com/Fery Heryadi) Ilusttasi borgol. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Departemen Kehakiman AS menyatakan, mantan pejabat Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat ditangkap setelah diduga membelot ke China .

Biro Investigasi Federal (FBI) menangkap Ron Rockwell Hansen, pria berusia 58 tahun, berada dalam perjalanan menuju bandar udara internasional Tacoma di Seattle. Dia dijadwalkan terbang ke China.

Departemen Kehakiman menuding Hansen berupaya mengirim informasi pertahanan nasional kepada China dengan imbalan ratusan ribu dolar AS. Bersamaan dengan itu, dia secara gelap bertindak sebagai agen bagi pemerintah di Beijing.

Sementara itu, di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengaku tidak mengetahui perkara tersebut. "Namun, tentu saja akhir-akhir ini banyak persoalan yang muncul antara China dengan Amerika Serikat. Kami berpendapat bahwa China dan Amerika Serikat adalah dua negara besar yang seharusnya lebih banyak memperkuat kerja sama dan rasa saling percaya," kata Hua kepada wartawan.

Baca juga: Israel Sesumbar Akan 'Kubur' Kesepakatan Nuklir Iran

Hansen adalah tokoh terbaru dalam gelombang penangkapan terhadap para mantan pejabat intelijen Amerika Serikat terkait dugaan pembelotan dengan menjadi mata-mata China.

Pada awal tahun ini, mantan petugas CIA Jerry Chun Shing Lee didakwa berkonspirasi untuk mengumpulkan dan mengirimkan informasi pertahanan nasional kepada China.

Selain itu, mantan pegawai intelijen Amerika Serikat bernama Kevin Mallory kini tengah menjalani pengadilan di Virginia, juga karena diduga menjual informasi rahasia kepada Beijing.

Dalam kasus baru yang diumumkan pada Senin, kejaksaan mengatakan bahwa Hansen menguasai dengan lancar bahasa Mandarin dan Rusia.

Dia menjabat sebagai petugas jaringan para agen di Badan Intelijen Pertahanan dan pada saat bersamaan aktif di militer pada 2000-2006. Dia kemudian meneruskan jalur karirnya sebagai karyawan sipil dan sebagai pegawai kontrak.

Hansen juga memegang akses terhadap rahasia tinggi negara selama bertahun-tahun.

Baca juga: Letusan Gunung Api Fuego Guatemala Telah Memakan 62 Korban Jiwa

Pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa di antara tahun 2013 sampai 2017, Hansen terbang pulang pergi ke China untuk menghadiri berbagai macam konferensi sekaligus memberikan informasi yang didapatnya kepada badan intelijen China.

Dia dibayar melalui transfer, uang tunai, dan kartu kredit. Dia juga diduga melanggar hukum karena menjual teknologi yang tidak boleh diekspor.

"Tindakannya adalah pengkhianatan terhadap keamanan negara dan rakyat Amerika," kata John Demers, kepala Divisi Keamanan Nasional Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

Menurut catatan pengadilan, FBI mulai menginvestigasi Hansen mulai pada 2014 tanpa diketahui oleh tersangka. Dia bahkan sembilan kali berpartisipasi dalam pertemuan sukarela dengan FBI.

Dalam pertemuan itu, Hansen mengatakan kepada FBI bahwa China berupaya merekrut dirinya. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More