Forgot Password Register

Headlines

Blak-blakan Penerbangan Federal AS Soal Kecelakaan Lion Air JT-610, Mengejutkan!

Blak-blakan Penerbangan Federal AS Soal Kecelakaan Lion Air JT-610, Mengejutkan! Ilustrasi Lion Air Boeing 737 MAX 8. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Penyelidikan terkait malfungsi Lion Air JT-610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, dan menewaskan 189 orang masih terus dilakukan.

Menurut laporan baru The Wall Street Journal, Boeing menyembunyikan informasi tentang kemungkinan malfungsi dengan fitur kontrol penerbangan baru, yang diyakini turut menyebabkan kecelakan Singa Merah.

Para pejabat Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) dan pakar keselamatan yang memimpin penyelidikan kecelakaan itu mengatakan, fitur pencegahan otomatis yang diperkenalkan baru-baru ini untuk model Boeing, termasuk 737 MAX 8 dan MAX 9, mungkin secara tiba-tiba mengubah arah pesawat.

Baca juga: ABC News: Masalah 4 Penerbangan Terakhir Lion Air Terletak pada Indikator Kecepatan

Boeing dilaporkan memperingatkan maskapai penerbangan tentang fitur yang baru yang beresiko secara keamanan. Dengan adanya larangan tersebut, FAA menilai pilot tidak menyadari mekanisme reisiko kontrol penerbangan pada pesawat Boeing.

"Ini sangat konyol bagi mereka untuk menempatkan sistem di pesawat terbang dan tidak memberi tahu pilot yang mengoperasikan pesawat, terutama ketika berurusan dengan kontrol penerbangan," ujar pejabat FAA Kapten Mike Michaelis, sekaligus ketua Komite Keselamatan Asosiasi Pilot, yang dilansir dari Sputnik, Selasa (13/11/2018).

Baca juga: Duka Cita Presiden Kazakhstan Atas Tragedi Jatuhnya Lion Air JT-610

Lebih dari seminggu setelah kecelakaan itu, FAA mengeluarkan perintah kelaikan udara untuk 246 pesawat Boeing 737 Max di seluruh dunia, 45 di antaranya beroperasi di Amerika Serikat.

Menurut Reuters, petunjuk terbaru menetapkan bahwa penerbangan pesawat untuk memberikan prosedur pemangkasan stabilisasi awak pesawat udara untuk mengikuti dalam beberapa kondisi.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More