Forgot Password Register

Headlines

Bola Panas Suku Bunga BI, Antara Pelemahan Rupiah dan Pelaku Usaha

Bank Indonesia (BI). (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi) Bank Indonesia (BI). (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Rupiah terdepresiasi hingga hampir menyentuh Rp14 ribu. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi tersebut sangat beresiko mengganggu stabilitas ekonomi apabila rupiah terus melemah.

Disatu sisi tekanan global dipastikan terus berlanjut hingga akhir tahun. Namun ia menilai memungkinkan untuk penyesuaian 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan.

"Memang ini pilihan dilematis untuk naikkan bunga acuan karena disatu sisi bunga bank rendah tetap diperlukan pelaku usaha dalam negeri, tapi disisi yang lain rupiah melemah efeknya juga besar," ujarnya saat dihubungi Pantau.com, Kamis (26/4/2018).

Baca juga: Fadli Zon: Sri Mulyani Jangan 'Meninabobokan' Masalah Pelemahan Rupiah

Namun lebih lanjut Bhima mengatakan, langkah Bank Indonesia untuk menaikan suku bunga acuan dinilainya tepat. Hal tersebut agar menahan keluarnya dana asing.

"Jadi langkah BI naikan suku bunga acuan untuk menahan keluarnya dana asing bisa dikatakan tepat. Bank sentral di Malaysia dan Singapura lebih dulu menaikan suku bunga acuannya," ungkapnya.

Baca juga: Bappenas Prediksi Perputaran Uang Pertemuan IMF-World Bank Capai Rp6,9 T

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan juga dinilai tepat ditengah kondisi cadangan devisa yang semakin tergerus. Ia juga menilai kenaikan suku bunga tak bisa ditunda lagi.

"Dengan kondisi cadangan devisa yang semakin tergerus, menaikkan bunga acuan merupakan opsi yang tak bisa ditunda lagi. Jika BI 7 days repo rate naik 25-50 bps (basis point) maka nilai aset baik surat utang maupun saham akan lebih menarik dimata investor," pungkasnya

Share :
Komentar :

Terkait

Read More