Pantau Flash
Penyitaan Narkoba Terbesar di Malaysia: 3,7 Ton Senilai USD161 Juta
Sebelum Ada BBM 1 Harga, Premium di Nusa Ceningan Bali Rp10.000 per Liter
Dirut BPJS Kesehatan Bicara Soal Iuran: Kita Menyesuaikan dengan Hitungan
Jembatan George Washington Ditutup Setelah Ada Ancaman Bom
BMKG Sebut Ada 151 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat

Bukan di Indonesia, Menko Darmin Akhirnya Temukan ‘Pemain’ Harga Karet

Headline
Bukan di Indonesia, Menko Darmin Akhirnya Temukan ‘Pemain’ Harga Karet Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Pemerintah Indonesia siap berdiskusi dengan Thailand dan Malaysia untuk mengatasi persoalan turunnya harga karet di pasar internasional.

"Kita perlu kerja sama, paling tidak dengan Thailand dan Malaysia, kalau sendiri-sendiri, tidak bisa," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Baca juga: 4 Negara Ini Tak Pungut Pajak, Rakyatnya Terkenal Paling Tajir di Dunia

Darmin menjelaskan koordinasi dengan dua negara tetangga ini dilakukan karena harga karet sedang mengalami penurunan, padahal tidak ada kelebihan permintaan.

"Kita melihat bahwa karet tidak 'oversupply', tapi kenapa harganya turun terus, pasti ada yang tidak beres," ujarnya.

Ia menduga terjadi permainan harga di tingkat spekulan sehingga diskusi untuk mencari solusi dengan sesama negara produsen karet harus dilakukan.

Baca juga: Bukan di Film, Mobil Iron Man Edisi Terbatas Siap Dipasarkan Bulan Ini

"Spekulan banyak yang memainkan informasi, kita sudah melihat persediaan stok untuk dua bulan, tidak semestinya menjatuhkan harga sejauh itu," katanya.

Setelah dilakukan diskusi dengan Thailand dan Malaysia, menurut Darmin, maka diskusi lanjutan juga akan dilakukan ke bursa komoditi di Singapura dan Shanghai.

Baca juga: 3 Hal yang Mustahil Disepakati AS-Cina, Perang Dagang 'Never Ending'

"Kita telusuri juga, dimana penentuan harga karet. Ternyata di dua tempat, bursa Singapura dan Shanghai," kata Darmin.

Ia mengharapkan upaya diskusi ini bisa menstabilkan harga karet yang tidak lagi merugikan petani karet dan tidak menganggu kestabilan produksi industri karet.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: