Forgot Password Register

Headlines

Buntut Teror di Selandia Baru, Muslim Australia Diminta Waspada

Buntut Teror di Selandia Baru, Muslim Australia Diminta Waspada Lembaga tertinggi dewan Islam Australia meminta para anggotanya waspada di sekitar masjid. (Foto: AP/Mark Baker via ABC News)

Pantau.com - Para ulama Islam di Australia mengutuk serangan penembakan terhadap jamaah di dua masjid Christchurch sebagai aksi teror yang terinspirasi oleh paham Islamofobia.

Pihak berwenang Selandia Baru yakin bahwa 40 orang tewas setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, yang disebut Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, sebagai salah satu hari terkelam di Selandia Baru.

Federasi Dewan Islam Australia (AFIC) mengutuk serangan itu dan mendesak pemerintah di Australia di semua level untuk memberi perhatian ekstra pada sentimen anti-Muslim dan ekstrimisme, seperti dilansir ABC News, Sabtu (16/3/2019).

Presiden AFIC, Rateb Jneid, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para korban dan keluarga mereka berada dalam doanya.

Baca juga: Penembakan 2 Masjid di Selandia Baru Tewaskan 40 Orang

"Dengan kesedihan yang mendalam kita mengetahui serangan teroris hari ini yang dilakukan terhadap jamaah yang tidak bersalah di sebuah Masjid di Christchurch, Selandia Baru," kata Dr Jneid.

"Kami menyampaikan doa dan simpati kami kepada para korban dan penyintas, keluarga mereka dan masyarakat Selandia Baru selama masa yang mengerikan ini," katanya.

"Tindakan teror terhadap para jamaah yang tidak bersalah ini adalah kekejaman dan kami berduka bersama para korban dan keluarga mereka," tambahnya.

Peringatan akan adanya suasana kebencian

Senator perempuan Muslim pertama Australia, Mehreen Faruqi, mengutuk sentimen anti-Islam di Australia, terutama politisi sayap kanan seperti Pauline Hanson dan Fraser Anning.

"Ada darah di tangan para politisi yang menghasut kebencian. Bagi saya, ada hubungan yang jelas antara politik kebencian mereka dan kekerasan yang memalukan dan tidak masuk akal di Christchurch ini," unggahnya di Twitter.

"Muslim telah menjadi sasaran selama sholat Jum'at, ini bukan peristiwa terisolasi dengan penyebab misterius. Ini bukan peristiwa acak. Ini adalah konsekuensi dari kebencian Islamofobia dan rasis yang telah dinormalisasi dan dilegitimasi oleh beberapa politisi dan media," tambahnya.

"Menghadiri sholat Jum'at adalah ritual keluarga bagi jutaan umat Islam. Hati saya hancur untuk semua orang yang kehilangan keluarga dan teman-teman hari ini, dan Muslim di seluruh dunia yang khawatir akan keselamatan mereka setiap hari," kata Mehreen Farudi.

"Mari kita sebut ini apa adanya. Serangan teroris terencana yang menargetkan kaum Muslim," tegasnya.

Baca juga: Fakta Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru

Dr Jneid mengatakan dalam pernyataannya bahwa umat Islam di Australia perlu mewaspadai keselamatan mereka, terutama di sekitar masjid.

"Kami mendorong semua Masjid dan tempat ibadah di Australia untuk lebih waspada dan bagi anggota komunitas Muslim untuk secara khusus memperhatikan keselamatan mereka dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Ia juga mendesak pemerintah Australia untuk mewaspadai "konsekuensi mengerikan" yang bisa timbul dari ujaran kebencian.

"Pembantaian hari ini adalah produk dari Islamofobia yang semakin meningkat dan marjinalisasi umat Islam dan merupakan pengingat bagi semua pihak, termasuk para pemimpin politik dan komentator media, tentang konsekuensi mengerikan yang bisa ditimbulkan oleh suasana kebencian dan perpecahan," katanya.

"Tidak ada negara atau komunitas yang kebal terhadap kekejaman seperti itu," katanya

"Kami mendesak pemerintah di Australia, baik di tingkat Federal dan Negara Bagian, untuk memberikan perhatian ekstra pada munculnya sentimen anti-Muslim dan ekstrimisme dan memastikan bahwa keprihatinan komunitas Muslim didengar dan ditanggapi dengan tulus," tegasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More