Forgot Password Register

Headlines

Catat! Rokok Jadi Komoditas Kedua Pengaruhi Garis Kemiskinan

Catat! Rokok Jadi Komoditas Kedua Pengaruhi Garis Kemiskinan Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Kepala Subdirektorat Statistik Kerawanan Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ahmad Avenzora mengatakan, rokok merupakan komoditas kedua yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan.

"Rokok banyak dikonsumsi sehingga masuk dalam komoditas dalam mengukur kemiskinan. Posisinya selalu menempati posisi kedua setelah beras," kata Ahmad dalam peluncuran hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Baca juga: BI Tarik Uang Ini, Buruan Tukar Sebelum Tak Berlaku

Ahmad mengatakan pada September 2017, beras memberi pengaruh 18,8 persen di perkotaan dan 24,52 persen di perdesaan terhadap garis kemiskinan, diikuti rokok sebanyak 9,98 persen di perkotaan dan 10,70 persen di perdesaan.

Pada Maret 2017, 19,63 persen penduduk miskin adalah perokok. Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017, persentase penduduk merokok di perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.

Mengapa rokok termasuk ke dalam komoditas yang ditetapkan BPS dalam mengukur kemiskinan? Ahmad mengatakan hal itu karena konsumsi rokok di Indonesia cukup tinggi.

"BPS menggunakan metodologi arus utama yang banyak digunakan di negara-negara berkembang untuk mengukur kemiskinan, yaitu konsep kebutuhan dasar. Konsep tersebut mengukur komoditas-komoditas yang banyak dikonsumsi," tuturnya.

Baca juga: Mark Zuckerberg Terdepak, CEO Terbaik di Dunia Disabet Oleh.....

Di Indonesia, terdapat 52 jenis komoditas kebutuhan dasar. Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

Ahmad menjadi salah satu narasumber dalam peluncuran penelitian "Perilaku Merokok Orang Tua dan Dampaknya terhadap 'Stunting' dan Jebakan Kemiskinan" yang diadakan Pusat Kajian Jaminan Sosial, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia dan Komite Nasional Pengendalian Tembakau.

Selain Ahmad, narasumber lainnya adalah Kepala Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia Teguh Dartanto, Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Bernie Endyarni Medise, SpA(K) dan guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More