Pantau Flash
Kevin/Marcus Tantang Hendra/Ahsan di Final Indonesia Open 2019
Hendra/Ahsan Melangkah ke Final Indonesia Open 2019
Polisi Kembangkan Kasus Sabu Nunung hingga Luar Kota
Kongres Luar Biasa PSSI Digelar di Ancol 27 Juli 2019
Duterte Sebut HAM PBB Bodoh

Daging, Apel Segar hingga Sepatu Jadi Sebab Tingginya Impor Barang

Daging, Apel Segar hingga Sepatu Jadi Sebab Tingginya Impor Barang Pedagang daging sapi (Foto: Antara)

Pantau.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia April 2019 mencapai USD 15,10 miliar atau naik 12,25 persen. Kepala BPS Suharyanto mengungkapkan hal ini lazim terjadi pada bulan Ramadhan.

Secara perbandingan April 2018 ke 2019 semua mengalami penurunan baik impor barang konsumsi, barang modal maupun bahan baku/penolong. Namun perbandingan bulan Maret ke April 2019 semuanya mengalami peningkatan.

"Month to month semua naik, pattern-nya semua seperti itu mendekati bulan Ramadhan menggeliat beberapa komoditas memenuhi kebutuhan konsumsi Ramadhan dan Lebaran," ujarnya saat jumpa pers di gedung BPS, Jl. Dr. Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019).

Baca juga: Pemilu 2019 Juga Pengaruhi Belanja Iklan Otomotif Selama IIMS 2019

Sementara, peningkatan impor barang konsumsi yakni mencapai 24,12 persen. Menurutnya, yang terbesar disebabkan oleh impor daging beku, buah-buahan hingga sepatu atletik.

"Yang naik lumayan besar daging beku. Nilainya USD64.1 juta. Dari india dan AS untuk jaga supaya pasokan kalau ada permintaan tinggi karena biasanya meningkat, kedua buah-buahan, apel dari Aussie dan peer," ungkapnya.

Baca juga: BPS: Neraca Perdagang RI Defisit Rp36 Triliun, Ini Penyebabnya

"Lebih kepada barang konsumsi, tidak terlalu berkaitan dengan lebaran juga soalnya itu meningkat juga di hari biasa. Kemudian shipbuilding material dan pulps dari New Zealand kemudian running dan sepatu athletic ini lebih karena pola ramadhan," imbuhnya.

Sebelumnya, Neraca Perdagangan Indonesia April 2019 mengalami defisit USD2,5 miliar atau Rp36 triliun (kurs Rp 14.400 ribu per dolar AS). Dipicu oleh defisit di sektor migas USD1,49 miliar atau Rp21,46 triliun dengan catatan positif gas namun sektor non migas defisit USD1,01 miliar atau Rp14,54 triliun.


Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: