Pantau Flash
Tolak Pinangan Barca dan PSG, De Ligt: Saya Mengagumi Juventus
Hingga Akhir 2019, Blok Masela Bisa Dongkrak Cadangan Migas 300 Persen
Pompeo: China Bertanggung Jawab Atas Noda Abadi Abad Ini!
Novri Setiawan Dihukum 2 Laga, Persija Didenda Rp75 Juta
Komedian Nunung Ditangkap Polisi karena Narkoba, Tes Urinenya Positif

Defisit Neraca Perdagangan Januari–April Bengkak, RI Wajib Waspada?

Defisit Neraca Perdagangan Januari–April Bengkak, RI Wajib Waspada? Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Defisit Neraca Perdagangan RI secara kumulatif Januari–April 2019 mencapai USD2,56 miliar. Jumlah tersebut meningkat cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka kumulatif Januari–April 2018 sebesar USD1,41 miliar.

"Defisit kalau kita lihat Januari–April 2019 defidit nya USD2,56 milair itu lebih tinggi dibanding Januari–April 2018 yang USD 1,41 miliar," Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, jl. Dr. Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019).

Suharyanto mengungkapkan, peningkatan tersebut sudah diprediksi pasalnya tantangan perdagangan di tahun 2019 dinilai akan luar biasa. 

Baca juga: BPS: Neraca Perdagang RI Defisit Rp36 Triliun, Ini Penyebabnya

Pasalnya kata dia, terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara sehingga akan berpengaruh pada nilai ekspor RI. 

"Untuk 2019 ini tantangannya akan luar biasa karena seperti saya sampaikan, ekonomi global akan melemah. Misalnya untuk Tiongkok kuartal 1 hanya 6,4 persen sementara 2108 6,8 persen, Singapura juga dari 4,7 ke 1,3 persen, Korsel demikian juga dari 2,8 ke 1,58 persen," ungkapnya.

"Kita masih sangat berutnung pe kita yang 5.07 masih menguat, tapi ketika negara-negara tujuan ekspor kita melambat suka enggak suka akan pengaruh," imbuhnya.

Baca juga: Pemilu 2019 Juga Pengaruhi Belanja Iklan Otomotif Selama IIMS 2019

Selain itu kaya dia, harga komoditas sebagai andalan perdagangan juga fluktuatif ditambah lagi perang dagang juga menambah gejolak di pasar global. 

"Harga komoditas yang fluktuatif tidak bisa kita tebak, kemudian perang dagang, tentu dalam negeri pelru kita benahi," katanya. 

Kendati demikian menurutnya, Pemerintah sudah mempunyai komitmen untuk memperkuat ekspor  dengan memberi insentif supaya produk-produk RI lebih kompetitif, diversifikasi produk dengan biaya logistik, namun kata dia itu semua butuh waktu.

"Ketika negara yang mau diekspor pertumbuhan ekonominya melambat maka butuh waktu, maka ekonom banyak sarankan dengan kendalikan impor untuk barang-barang yang bisa disubstitusi dari produk dalam negeri," pungkasnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: