Forgot Password Register

Ekonom: Keliru Jika Rokok Indonesia Lebih Murah

Ilustrasi (Foto: Pixybay) Ilustrasi (Foto: Pixybay)

Pantau.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ada pandangan yang keliru bahwa harga rokok Indonesia tergolong murah dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya.

"Perbandingan harga itu cenderung bias," kata Bhima di Jakarta, Selasa (29/5/2018).

Baca juga: Terlalu Murah, Akademisi: Harga Rokok Harus per Batang

Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, Bhima menjelaskan harga rokok terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9 persen. Sementara di Singapura dan Malaysia masing-masing hanya 1,5 persen serta 2 persen.

"Di Singapura terbukti bahwa harga rokok yang kita anggap mahal ternyata masih dalam jangkauan daya beli penduduk Singapura," ucapnya.

Menurut Bhima, menaikkan harga rokok tidak serta-merta menurunkan angka jumlah perokok. Konsumen justru bisa berbalik arah mengonsumsi rokok murah.

"Yang terjadi justru adanya perilaku beralihnya konsumen ke rokok yang lebih murah, atau yang paling berbahaya justru meningkatnya peredaran rokok ilegal," jelasnya.

Baca juga: Kenaikan Cukai Rokok Berpotensi Kurangi Pegawa

Hasil riset dari Universitas Gadjah Mada pada 2014 menunjukkan bahwa sekitar 11,7 persen dari 344 miliar batang rokok di pasaran dijual secara ilegal.

Bhima menegaskan jika harga rokok langsung dinaikkan secara drastis maka yang terjadi rokok ilegal semakin mendominasi pasaran.

"Kondisi ini jelas tidak menambah pemasukan cukai, justru kehilangan penerimaan negara bisa membesar," ujar dia.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More