Forgot Password Register

Fatayat NU: Perempuan Harus Berani Tolak Ajaran Radikalisme

Personel penjinak bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (Foto:Antara/M Risyal Hidayat) Personel penjinak bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (Foto:Antara/M Risyal Hidayat)

Pantau.com - Organisasi perempuan Fatayat NU mengajak kaum perempuan untuk berani menolak ajakan dalam bentuk dan alasan apa pun yang mengarah pada aksi radikalisme.

"Fatayat NU melihat perempuan yang sesungguhnya memiliki potensi sebagai agen pendamai di lingkup keluarga, hari ini nyata-nyata telah dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan bangsa," kata Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini di Jakarta, Minggu malam (13/5/2018).

Anggia mengemukakan hal itu menanggapi aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, yang salah seorang pelakunya perempuan.

Baca juga: Pantau Foto: Dahsyatnya Serangan Bom di Tiga Gereja di Surabaya

Fatayat NU mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk membuka wawasan seluas-luasnya dan menyadari praktik serta gejala aksi radikalisme yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Fatayat NU juga mengajak organisasi masyarakat dan seluruh organisasi perempuan di Indonesia untuk turut menebar perdamaian, toleransi dan sikap saling menghormati terhadap perbedaan.

"Mari kita tanamkan nilai agama yang rahmatan lil alamin mulai dari keluarga,"  tegasnya.

Keprihatinan atas keterlibatan perempuan dalam aksi teror di Surabaya juga dikemukakan Direktur Eksekutif Rumah Perempuan dan Anak (RPA) Ai Rahmayanti.

"Ini yang harus diwaspadai. Apalagi kemarin juga telah ditangkap dua perempuan terduga teroris yang merencanakan menusuk pake gunting aparat polisi di depan Mako Brimob," ujarnya.

Baca juga: Libatkan Anak-anak, Jokowi Sebut Aksi Bom Surabaya Biadab

Ia mengatakan, dalam berita acara pemeriksaan terungkap kedua perempuan yang dibekuk mendalami ilmu agama melalui media sosial dan saluran Islam garis keras.

"Menjadi tugas pemerintah terutama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk lebih selektif terhadap media-media provokatif yang saat ini bisa dengan mudah diakses melalui internet," katanya.

Ia pun meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tegas terhadap media terutama televisi dan radio yang menyuguhkan dai dan daiyah yang berpandangan pro terorisme atau kekerasan dengan tafsir agama yang bias.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More