Pantau Flash
Alex Marquez Resmi Bergabung dengan Sang Kakak di Repsol Honda
DPRD DKI: Anies Tak Pernah Berjanji Jika Tidak Lakukan Penggusuran
Menteri BUMN Pangkas Deputi Kementerian Jadi 3
Marquez Persembahkan Treble Crown untuk Lorenzo
Sesmenpora: Tidak Mungkin Indonesia Juara Umum Sea Games

Formappi: DPR Diskriminatif Soal RUU!

Formappi: DPR Diskriminatif Soal RUU! Rapat Paripurna (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansyah)

Pantau.com - Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai terdapat perlakuan diskriminatif oleh anggota DPR dalam pembahasan rancangan undang-undang (RUU).

"Ada perlakuan diskriminatif soal nasib RUU yang dibahas DPR. Banyak yang dibilang prioritas tetap saja bernasib sial karena jarang disentuh dan akhirnya tidak selesai-selesai," ujar peneliti senior Formappi Lucius Karus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Baca Juga: DPR Resmi Tetap Sahkan RUU KPK di Paripurna di Tengah Kritik Besar

Ia mengatakan, terdapat banyak RUU prioritas yang tidak rampung dibahas DPR dalam periode kerja 2014-2019, misalnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU Larangan Minuman Beralkohol. Padahal RUU itu telah dibahas sejak lama.

Namun, kata dia, perlakuan berbeda ditunjukkan para wakil rakyat itu saat membahas revisi UU KPK. RUU itu diselesaikan kurang dari satu bulan, sejak diusulkan menjadi RUU inisiatif DPR pada 5 September lalu.

"Beda nasib dengan RUU Prioritas kebanyakan yang menggelantung tak jelas nasibnya di tangan DPR dan pemerintah periode ini, revisi UU KPK yang melesat kilat dalam lintasan akhir perjalanan masa bhakti malah tak butuh waktu satu masa sidang sekalipun untuk disahkan DPR," kata dia.

Menurut Karus, hal itu dapat memunculkan dugaan ada kepentingan sepihak dan agenda khusus antara DPR dan pemerintah, tanpa melibatkan publik.

Jika hal tersebut benar terjadi, kata dia, akan menjadi bencana bagi para wakil rakyat, sebab mereka telah gagal mengemban tugas untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Pembahasan RUU yang cepat untuk urusan sendiri tidak berbanding lurus dengan RUU untuk kepentingan bangsa atau rakyat," kata dia.

Ia menyatakan pembahasan "kilat" revisi UU KPK tanpa pelibatan maksimal publik, bahkan mengangkangi prosedur standar proses pembahasan legislasi, membuktikan DPR dan pemerintah sudah terjebak dalam relasi kompromistis yang transaksional.

Baca Juga: Ketua Baleg Tegaskan Seluruh Fraksi DPR Sepakat RUU KPK Dibawa ke Paripurna

"Keinginan yang sama pada isu yang berbeda-beda membuat RUU seperti KPK ini dan juga MD3, pemilihan komisioner KPK, kursi pimpinan MPR, dan tersisa adalah kursi kabinet, semuanya bisa ditransaksikan satu dengan yang lainnya," kata dia.

Ia mengatakan revisi undang-undang tidak bisa dilakukan hanya karena adanya dorongan emosi seketika semata. Perlu adanya penggalian wacana dan pendalaman konsep agar dapat melahirkan terobosan RUU yang berkualitas.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Bagaskara Isdiansyah
Category
Nasional

Berita Terkait: