Pantau Flash
Voli Pantai Indonesia Melaju ke Semifinal Turnamen World Beach Games
KPK OTT Bupati Indramayu
PDIP Pasrahkan Kabinet ke Jokowi
AICHR Desak Diterapkannya Perjanjian ASEAN Soal Kabut Asap Lintas Batas
Tol Langit Diprediksi Tingkatkan Ekonomi Digital Indonesia Timur

Hasil Riset: Tarif Ojek Naik Bisa Picu Peningkatan Kendaraan Pribadi Lagi

Hasil Riset: Tarif Ojek Naik Bisa Picu Peningkatan Kendaraan Pribadi Lagi Ojek online. (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Hasil riset Research Institute of Economic Development (RISED) mengemukakan bahwa kenaikan tarif ojek daring berpotensi mengurangi pengguna sehingga akan meningkatkan penggunaan kendaraan pribadi kembali.

"Kenaikan tarif ojek 'online' (daring) mendorong konsumen kembali menggunakan kendaraan pribadi, sehingga meng-disinsentif penggunaan transportasi publik," kata Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara dalam jumpa pers paparan hasil riset di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Menurut Rumayya, hal tersebut karena kenaikan tarif berpotensi untuk menggerus permintaan ojek daring karena akan ada konsumen yang enggan menggunakan ojek daring kembali.

Baca juga: Beredar Kabar Tarif Bawah Ojek Online Rp3.500 per km, Setuju Geng?

Bila memang demikian adanya, maka ke depannya juga akan mendorong kembali konsumen untuk beralih dari menggunakan ojek daring, kembali menggunakan kendaraan pribadi.

Rumayya yang juga merupakan Ekonom dari Universitas Airlangga itu juga mengatakan bahwa konsumen sangat sensitif terhadap segala kemungkinan peningkatan tarif, yang terlihat dalam hasil survei.

"Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen," kata Rumayya.

Dari hasil survei yang dilakukan RISED diketahui bahwa jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km/hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.200 per km menjadi Rp 3.100 per km (atau sebesar Rp900 per km), maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp7.920 per hari.

"Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan yang hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000 per hari. Total persentasenya mencapai 71,12 persen," jelasnya.

Baca juga: Tarif Batas Bawah Ojek Online Ditetapkan, ini Besarannya!

Pembicara lainnya, mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Zumrotin K Susilo menjelaskan tarif memang selalu menjadi pertimbangan penting konsumen dalam menggunakan layanan atau produk. Hal itu, menurut Zumrotin, dapat terlihat dari hasil survei yang dilakukan RISED bahwa 64 persen responden mengaku menggunakan aplikasi dari dua perusahaan aplikasi ojek daring. "Persentase ini menunjukkan layanan ojol amat sensitif dengan harga yang ditawarkan," kata Zumrotin.

Zumrotin mengingatkan bahwa jika tarif ojol naik drastis, maka ada kemungkinan konsumen akan kembali beralih ke kendaraan pribadi di jalanan akan semakin tinggi.

Sementara itu, Ekonom UI Fithra Faisal mengingatkan bahwa peningkatan harga akan berdampak terutama kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang sebagian kerap menjadi pengguna moda ojek daring. 

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: