Pantau Flash
7 Tahun Digarap, PLTA Rajamandala akan Pasok Kelistrikan Jawa-Bali
Hendra Pastikan Indonesia Open 2019 Bukan Kompetisi Terakhirnya
Harga Cabai Tembus Rp70.553 per Kg Setara Setengah Kg Daging Sapi
Persija Siap Beri Kekalahan Pertama untuk Tira Persikabo
DPR Terima Surat Pertimbangan Pemberian Amnesti Baiq Nuril

Ihh... Ada Keju Berbahan Ketiak dan Kotoran yang Dipamerkan di London

Ihh... Ada Keju Berbahan Ketiak dan Kotoran yang Dipamerkan di London Ilustrasi keju. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Keju terbuat dari bakteri yang diambil dari telinga, jari kaki dan ketiak selebritas, toilet keramik dari pupuk kotoran sapi, botol air yang bisa dimakan dan 'tanaman berbicara' mungkin bukan pameran yang lazim ditemui di museum seni dan desain.

Benda-benda itu adalah sebagian dari percobaan gastronomi dan pertanian mengenai siklus makanan, dari rumput hingga ke piring, juga keberlanjutan, dalam pameran di museum V&A London, yang dikenal dengan patung, tekstil dan print.

"Apa yang banyak orang tidak pikirkan adalah hubunganmu dengan makanan itu lebih dari sekadar menyantap apa yang ada di piring," kata May Rosenthal Sloan, ko-kurator dari pameran 'FOOD: Bigger than the Plate'.

Baca juga: Genks, Keju Hitam Ini Namanya 'Venom Cheese'

"Setiap hidangan yang disantap, setiap kali makan yang menghubungkanmu dengan alam, dengan budaya, dengan ekonomi dan politik, dengan tubuhmu sendiri, dan apa yang kami lakukan adalah membuat orang melihat itu secara garis besar dan berpikir bagaimana pilihan yang kita buat dapat berdampak pada masa depan."

Dalam pameran itu ada pula berbagai variasi keju, mozzarella, comte, cheddar, Cheshire dan stilton, atau "potret mikrobial", masing-masing dibuat dari bakteri rapper Professor Green, chef Heston Blumenthal, penyanyi Suggs, musisi dan pembuat keju Alex James dan penulis makanan Ruby Tandoh.

"Ada banyak kesamaan antara bakteri di ketiak dan bakteri di keju," ujar biodesigner Helene Steiner.

"Bicara soal keju buatan sendiri, makanan buatan rumah, kau memasukkan tanganmu ke sana, jadi bakteri sering jadi terpapar ke makananmu. Jadi kupikir itu bukan faktor menjijikkan, lebih kepada memandang soal keragaman dan keindahan makanan dan bagaimana bakteri membantu kita membuatnya."

Baca juga: Banyak yang Salah, Ternyata Begini Cara Memarut Keju yang Benar

Steiner juga berada di belakang 'Project Florence' atau yang ia sebut 'tanaman berbicara', yang berasal dari empat tahun penelitian penggunaan sinyal listrik dan kimia oleh pabrik.

Bertujuan untuk 'memberi suara pada alam', proyek ini terdiri dari tanaman stroberi dalam mangkuk kaca, terhubung ke komputer di mana pengunjung dapat mengetik pertanyaan dan mendapatkan jawaban yang tercetak.

"Salah satu alasan mengapa saya memulai ini adalah mencari pestisida. Saat ini kami menempatkannya enam kali setahun di ladang, secara acak," kata Steiner.

"Saya pikir akan sangat menarik jika kita memiliki cara untuk memahami kapan tanaman benar-benar terpengaruh, dan hanya menggunakan pestisida pada saat itu."

Pengomposan, pertanian, perdagangan, dan makan adalah beberapa tema yang dieksplorasi dalam pameran, di mana barang-barang lain yang ditampilkan meliputi desain sosis dan pertanian jamur perkotaan.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Rifeni
Category
Ragam

Berita Terkait: