Forgot Password Register

Imbas Skandal Facebook, Cambridge Analytica Akhirnya Gulung Tikar

ilustrasi Facebook. (Pantau.com/Fery Heryadi) ilustrasi Facebook. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Cambridge Analytica sebagai perusahaan yang terlibat dalam kontroversi atas penanganan data pengguna Facebook, dan perusahaan induknya SCL Elections segera tutup setelah mengalami penurunan tajam dalam bisnis.

Perusahaan itu akan memulai proses kepailitan, katanya, setelah kehilangan klien dan menghadapi biaya hukum yang meningkat akibat skandal laporan perusahaan yang mengambil data pribadi jutaan pengguna Facebook mulai 2014.

"Kepungan pemberitaan media telah menjauhkan secara virtual hampir semua pelanggan dan pemasok. Akibatnya, perusahaan tersebut ditetapkan tidak lagi dapat melanjutkan operasi bisnis," bunyi keterangan tersebut.

Baca juga: Serangan Teroris 9/11, Pengadilan AS Perintahkan Iran Bayar USD6 Miliar

Cambridge Analytica dianggap telah mengambil 87 juta data pribadi pengguna Facebook. "Selama beberapa bulan terakhir, Cambridge Analytica telah menjadi subyek banyak tuduhan tidak berdasar sebagai komponen standar iklan berjejaring di arena politik," sambungnya.

Setelah pengumuman itu, regulator data Inggris mengatakan akan melanjutkan penyelidikan sipil dan kriminal pada perusahaan itu dan akan mengejar "individu dan direksi yang bersangkutan" di samping adanya penutupan kantor.

"Kami juga akan memantau dengan seksama setiap perusahaan penerus yang menggunakan kekuatan kami untuk mengaudit dan memeriksa, untuk menjamin publik terlindungi," kata juru bicara Kantor Komisi Informasi dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pria Ini Nekat Bakal Lempar (Lagi) Presiden dengan Sepatu, Siapa Dia?

"Cambridge Analytica dibangun sekitar 2013 pada awalnya dengan fokus pada pemilihan AS, dengan USD15 juta dukungan dari miliarder pendonor Republik Robert Mercer dan sebuah nama dipilih oleh penasihat Gedung Putih Trump masa depan, Steve Bannon." berdasarkan keterangan New York Times.

Setelah Trump memenangkan kekuasaan Gedung Putih pada 2016, perusahaan mendapatkan profit besar setelah pemilihan tersebut. Penasihat Khusus Robert Mueller tentang adanya kolusi antara kampanye Trump dan Rusia adalah apakah Badan Riset Internet Rusia atau intelijen Rusia telah menggunakan data yang diperoleh Cambridge Analytica dari Facebook. 

Bannon adalah mantan wakil presiden dari firma yang berbasis di London, dan Mueller telah meminta untuk menyediakan dokumen internal tentang bagaimana data dan analisisnya digunakan dalam kampanye Trump, menurut sumber yang mengetahui soal penyelidikan. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More