Forgot Password Register

INDEF Minta Pemerintah Tak 'Obral' Obligasi

Eko Listiyanto, peneliti INDEF (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika) Eko Listiyanto, peneliti INDEF (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Suku bunga acuan Bank lndonesia 7Days Repo Rate mengalami kenaikkan hingga 50 bps di posisi 5,25 persen. Kebijakan ini bertujuan guna menahan laju depresiasi Rupiah yang cukup dalam. Selain itu, kenaikkan suku bunga juga membuat pasar obligasi kian diminati.

Namun, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto berharap pemerintah dapat menahan diri dari 'obral' obligasi.

"Jika agresifitas pemerintah dalam perburuan pendanaan melalui utang meningkat, dikhawatirkan 'perang bunga' akibat berkurangnya likuiditas tidak terhindarkan," ujarnya saat diskusi di ITS Tower, Jl. Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).

Baca juga: INDEF: Polemik Kenaikkan Harga BBM Bukti Pemerintah Tak Antisipatif

Terlebih menurutnya, efektivitas utang pemerintah yang dinilai tumpul  seharusnya situasi kenaikan bunga acuan saat ini tida serta merta membuat pemerintah memacu utang.

"Lebih dari itu, 'obral' obligasi di tengah situasi kontraksi ekonomi dapat berakibat pada pengetatan likuiditas yang berlebihan, sehingga kebijakan mengalami 'overdosis'," imbuhnya.

Selain itu, ia menambahkan bila dana tersebut diserap melalui obligasi belum tentu akan diserap sebagai belanja modal. Sehingga lebih baik dana tersebut dibiarkan bergerak untuk aktivitas ekonomi ketimbang diserap melalui obligasi.

"Kita tahu defisit selalu kita push, APBN meningkat skrng hingga Rp 2000 triliun tapi pertumbuhan ekonomi gak bergerak diatas 5 persen itu menggambarkan  kinerja yang rendah dari sisi mendorong pertumbuhan ekonomi (dari sisi) Government," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More