Forgot Password Register

Indikator Maskapai Harus Ditutup, Bagaimana dengan Lion Air?

Indikator Maskapai Harus Ditutup, Bagaimana dengan Lion Air? Pesawat Lion Air (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Tragedi kecelakaan penerbangan yang baru saja terjadi pada maskpai Lion Air JT 610 cukup mengundang perhatian masyarakat. Setidaknya 189 penumpang dan kru pesawat menjadi korban dalam kecelakaan ini. 

Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah kedua ditengah perbaikan rekor keselamatan. Namun ditengah ramainya pemberitaan kecelakaan ini, haruskan maskapai ini ditutup?

Presiden Direktur Aviatory Indonesia, Ziva Narendra mengungkapkan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika harus menutup maskapai penerbangan Lion Air. Salah satunya yakni memnuhi kebutuhan beberapa jalur domestik. 

"Satu kita harus akui, keberadaan LCC (Low Cost Carier) di Indonesia, negara kepulauan, keberadan company seperti Lion Air positifnya banyak, rute-rute baru, daerah yang dulu hanya bisa digunakan jalan darat tiba-tiba sudah ada bandaranya kita harus akui," ujarnya saat ditemui usai diskusi di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2018).

Baca juga: Teka-Teki Maskapai LCC Seperti Lion Air Bisa Jual Tiket Murah (Bagian I)

Pihaknya menilai bahwa jika sampai ditutup maka pangsa pasar akan berubah. Pasalnya saat ini Lion Air menerbangkan 200 pesawat setiap harinya.

"Saya sih harapannya jangan ditutup tapi dijadikan pelajaran kalau sampai ditutup kita mesti siap-siap bahwa air travel tidak sepeti sebelumnya lagi pangsa pasar akan berubah," katanya. 

"Karena lion air melayani lebih dari 200 pesawat setiap hari nya bayangankan berapa juta penumpang terlayani jadi kalau company ditutup tiba-tiba dampaknya apa? Akses yang terlayani ke darah yang dulu tertinggal tidak memiliki opsi yang banyak," tambahnya. 

Selain itu juga maskapai yang ada saat ini belum tentu dapat menutup pasar dari penumpang Lion Air.  Menurutnya, saat ini dilihat dari rute, armada dan lain-lain pasarnha bisa mencapai 20 hingga 30 persen, mulai dari Lion Air, Bisa Air, Wings Air yang merupakan beberapa variasinya. 

"Apakah bisa disedot oleh maskapai yang lain, bisa tapi ketutup gak 100 persen? Karena kalau Lion Air ditutup kita mesti siap market yang kepotong bisa 30 persen loh, bisa 20-30% belum tentu bisa diserap maskapai lain 100% kita siap gak kehilangan market share (domestik)," tuturnya.

Baca juga: Begini Jadinya Kalau 'Tampang Boyolali' Jadi Duit

Dia menambahkan, harus perlu berpikir dua kali apakah dengan menutup sebagian maskapai yang dipicu sebuah kejadian merupakan sebuah langkah yang bijaksana ataukah lebih baik membuat sebuah korektif action supaya apa ada introspeksi dari maskapai.

"Saya juga tidak setuju kalau dengan kejadian ini Lion Air langsung ditutup orang penyebabnya apa kita belum tahu," terangnya.

Kalau dalam kejadian ini ia menilai, harus ada memitigasi resiko ada pembelajaran kalaupun ada sounding anomali dan lain-lain, kerusakan 4 penerbangan sebelumya, antisipasi Boeing ini jadi data konklusif kedepan apakah ada kelalaian atau faktor x.

"Tapi terlalu dini soal kelalaian kalaupun ada pidana atau hukum penerbangan kalau prosedur penerbangan dulu karena regulasi internasional hasil konklusi harus diumumkan lembaga KNKT ditentukan baru pidana atau bukan," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More