Pantau Flash
Intake Manifold Plastik Diketahui Meleleh, Volvo Tarik 507.353 Kendaraan
Bima Sakti Tetapkan 23 Pemain Isi Skuad Garuda Asia di Piala AFF U-15
BNPB Sebut Tujuh Provinsi Ini Terdampak Kekeringan
KPK Benarkan Pemprov Papua Belum Berhentikan ASN Terlibat Korupsi
Atletik Juara Umum ASEAN Schools Games 2019

Indonesia Pertahankan Keselamatan Kinerja Pekerja Pasukan Perdamaian

Indonesia Pertahankan Keselamatan Kinerja Pekerja Pasukan Perdamaian Dewan Keamanan (DK) PBB mendesak semua pihak yang berperang di Libya agar secara berkomitmen bagi gencatan senjata dan kembali ke pembicaraan perdamaian yang diperantarai PBB. (Foto: Antara)

Pantau.com - Selama beberapa dekade, pasukan misi pemeliharaan perdamaian PBB telah menjadi salah satu bagian utama dari kemitraan global, kepemimpinan kolektif, dan tanggung jawab bersama untuk perdamaian.

Korps baret biru itu adalah para penjaga perdamaian yang diberi mandat oleh PBB untuk melindungi jutaan orang yang berada dalam wilayah-wilayah perang dan berkonflik di seluruh dunia.

Selain itu, pasukan penjaga perdamaian merupakan suatu bentuk kerja sama utama multilateral dalam upaya pemeliharaan perdamaian.

Namun, dengan realitas politik dan keamanan dunia saat ini, tantangan yang dihadapi oleh pasukan penjaga perdamaian semakin besar. Tantangan itu berasal dari sifat konflik yang berubah hingga kurangnya komitmen untuk solusi politik.

Baca juga: Di DK-PBB, Indonesia Desak Gencatan Senjata di Libya

Selanjutnya, dari persiapan pasukan yang tidak memadai hingga kemungkinan keterlibatan aktor transnasional, termasuk teroris dan pejuang teroris asing (FTF), semua faktor tersebut berdampak pada keselamatan dan kinerja setiap personel pasukan perdamaian.

Padahal, pasukan perdamaian tentu sangat dibutuhkan dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB, yang berdasarkan penelitian dinilai lebih efektif dan delapan kali lebih murah dibandingkan misi dan aksi unilateral.

Indonesia, sebagai salah satu negara penyumbang terbesar personel pasukan perdamaian, memandang penting sepenuhnya keberadaan pasukan penjaga perdamaian sebagai alat utama dalam upaya bersama untuk pemeliharaan perdamaian dunia.

Keselamatan dan kinerja

Untuk itu, pemerintah Indonesia berupaya mendorong peningkatan keselamatan dan kinerja para personel pasukan penjaga perdamaian PBB melalui perbaikan kualitas pelatihan dan pengembangan kapasitas mereka.

Indonesia sebagai Presiden Dewan Keamanan (DK) PBB pada Mei 2019 mengangkat isu tentang upaya peningkatan keselamatan dan kinerja pasukan pemelihara perdamaian PBB dalam kegiatan debat terbuka DK PBB.

Debat Terbuka DK PBB yang berlangsung pada 7 Mei 2019 di Markas PBB di New York, Amerika Serikat itu mengusung tema "Menabur Benih Perdamaian: Meningkatkan Keselamatan dan Kinerja Pasukan Penjaga Perdamaian".

Baca juga: Indonesia Kembali Suarakan Bela Palestina di Dewan Keamanan PBB

Pemerintah Indonesia mengangkat tema tersebut mengingat pentingnya peran pasukan penjaga perdamaian dan meyakini bahwa persiapan yang memadai akan sangat membantu keberhasilan misi pemeliharaan perdamaian PBB, kata Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian Ruddyard.

Menurut Febrian, tema tentang pasukan penjaga perdamaian itu juga juga sesuai dengan rekam jejak yang baik dari keterlibatan Indonesia dalam kontribusi personel pasukan penjaga perdamaian.

Indonesia merupakan negara terbesar ke-8 dari 124 negara penyumbang personel pasukan perdamaian, yakni sejauh ini dengan total 3.080 personel dalam berbagai misi pemeliharaan perdamaian PBB. "Kontribusi dalam pasukan penjaga perdamaian adalah salah satu kredensial Indonesia yang betul-betul diketahui oleh dunia. Mendapatkan 3.080 orang personel itu tidak gampang, khususnya dengan kualitas tinggi sebagai pasukan penjaga perdamaian. Itu sudah melakukan pelatihan dan melalui berbagai tes," ujar dia.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: