Pantau Flash
Tekuk Chen Long, Anthony Ginting Tembus Final BWF World Tour Finals 2019
Industri Fintech Lending Diharapkan Makin Sehat Tahun Depan
Menteri Pendidikan Malaysia Apresiasi Langkah Nadiem yang Hapus UN
191.807 Personel TNI-Polri Dikerahkan dalam Operasi Lilin 2019
LIPI: Sampah Menumpuk Akibat Perilaku Masyarakat

Industri Elektronik Alami Defisit 12 Miliar Dolar AS

Industri Elektronik Alami Defisit 12 Miliar Dolar AS Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto sedang berbincang dengan Preskom PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI) Rachmat Gobel (Foto: Antara/Risbiani Fardaniah)

Pantau.com - Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan defisit industri elektronik sangat dalam mencapai sekitar 12 miliar dolar AS pada tahun lalu.

"Dengan adanya ekspor ini bisa mengurangi defisit neraca perdagangan kita," kata Harjanto pada pelepasan ekspor perdana mesin cuci Panasonic, di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Oleh karena itu, lanjut Harjanto, pihaknya mengapresiasi setiap langkah ekspor yang dilakukan kalangan industri, khususnya di industri elektronik, dan meminta jangkauan ekspor diperluas ke negara lain, seperti ke kawasan Afrika sebagai negara nontradisional tujuan ekspor Indonesia.

"Bahkan AMMDes (Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan) juga kami upayakan dibawa ke Afrika, di samping beberapa produksi dalam negeri lainnya," kata Harjanto.

Baca juga: Malaysia Maaf, Panasonic Relokasi Pabrik ke Indonesia

Harjanto mengatakan defisit industri elektronik terjadi karena impor komponen untuk produksi masih sangat besar. Ia mencontohkan mesin cuci Panasonic saja kandungan komponen lokalnya masih 34 persen, sisanya impor.

"Rata-rata industri elektronika masuk di hilir," kata Harjanto. Hal itu menyebabkan impor komponen menjadi tinggi.

Karena itulah, kata dia, pihaknya terus mencari investor baru yang mau masuk ke industri hulu komponen.

Diakui Harjanto, defisit industri elektronik tidak hanya terjadi karena impor komponen yang tinggi, tapi juga karena impor produk jadi barang elektronik juga besar.

Baca juga: Catat Sejarah! Kenya Jadi Pengekspor Minyak ke China

Apalagi ada kebijakan mengizinkan impor barang jadi elektronik untuk barang komplementer hingga 20 persen. Namun pihaknya hanya memberi rekomendasi izin impor hanya lima persen, guna menekan impor barang jadi.

"Inilah mengapa kami berupaya mengurangi impor dan berupaya menarik investasi dengan memberi beragam insentif seperti tax holiday dan super deduction tax," kata Harjanto.

Berdasarkan data Kemenperin, dalam empat tahun terakhir industri elektronik tumbuh fluktuatif. Pada 2015 sempat tumbuh 2,92 persen dan 2016 tumbuh 8,98 persen, kemudian turun 0,80 persen pada 2017, dan makin anjlok turun 12 persen pada 2018.

Pada 2018, ekspor industri elektronik mencapai 8,2 miliar dolar AS, namun impornya jauh lebih tinggi mencapai 19,9 miliar dolar AS.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi