Pantau Flash
Kalahkan Chelsea di Stamford Bridge, Liverpool Kokoh di Puncak Klasmen
Hasil Balap F1 GP Singapura: Vettel Juara, Hamilton Tak Dapat Podium
Marc Marquez Juara GP Aragon, Gelar Keenam Semakin Dekat
Kalahkan Hendra/Ahsan, Kevin/Marcus Juara China Open 2019
Kalah dari Momota, Ginting Gagal Pertahankan Gelar China Open

Ini 5 Cara Mendidik Anak Remaja Melalui Media Sosial

Ini 5 Cara Mendidik Anak Remaja Melalui Media Sosial Ilustrasi media sosial. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Di kehidupan remaja, media sosial seringkali jadi tantangan terbesar bagi orangtua dalam mendidik anak. Masalahnya, sewaktu orangtua di usia remaja, mereka belum mengenal media sosial. Sehingga, seringkali si anak yang justru lebih pintar dari orangtua.

Dalam acara diskusi Ngobras di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019) Digital Literacy Officer (Internet Safety) ICT Watch Acep Syaripudin memberikan lima kiat bermedia sosial agar dapat mengontrol buah hati yang menginjak remaja.

1. Minta ajari anak

Jangan mudah menyerah, tidak bisa lantas abai terhadap perkembangan dunia digital tempat anaknya menghabiskan waktu. Acep tidak menyarankan orangtua untuk menjadi ahli, namun sekedar mengimbangi kehidupan media sosial anak.

"Jangan enggak tau, pasrah. Belajar sama anaknya, 'Ajarin mama dong!'. Sambil online, di situlah terjadi pembelajaran, disitu akhirnya orangtua jauh gap (jarak komunikasi)-nya dengan anaknya. Enggak usah melampaui, tapi bisa mengikuti," ujar Acep.

2. Buat MoU atau perjanjian

Ini biasanya dilakukan untuk anak tingkat setara SMP dan SMA. Agar anak mampu bertanggung jawab, buat seolah ketika diberikan handphone bukanlah jadi hak milik tapi dipinjamkan orangtua. Sehingga ketika si anak melanggar perjanjian, gadget dapat diambil kembali.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Audrey, Bagaimana Cara Bijak Anak Bermedia Sosial?

"Dibikin MoU, mau tidak mau. Bukan berarti untuk mengekang, tapi untuk keselamatan anak juga. Tapi ada reward, ada apresiasi. Ketika prestasi berhasil meningkat, di-upgrade (diperbaharui) handphonenya. Ketika dampak buruk, handphone bisa tarik lagi," ungkap Acep.

3. Literasi media

Ini berlaku saat anak SD sudah terlanjur memiliki media sosial. Sebelum ia memiliki sepenuhnya, ada baiknya orangtua menjelaskan dan beri pendidikan baik buruknya media sosial. Jika anak memaksa, maka jelaskan pembuatan akun hanya boleh saat usia anak mencukupi

"Jadi jangan berbohong sejak dini, karena umurnya di-up (dinaikkan) untuk bisa membuat akun," jelasnya.

4. Jangan lepas komunikasi

Dulu jika marah, anak keluar rumah dan tidak pergi jauh. Kini anak remaja yang sedang marah dengan orangtua akan mengurung diri di kamar dan memakai handphone. Segalanya dapat ditonton, itulah yang berbahaya. Karenanya, usahakan jangan lepas komunikasi secara online ataupun offline.

"Kunci kamar sendiri ,dia browsing. Apakah orangtua tidak kontrol karena tidak bisa. Orangtua jangan lepas komunikasi apapun. Jadi berperan ketika ada kesalahan langsung di-judge," imbuhnya.

Baca juga: Bukan Faktor Usia, Tapi Ini yang Jadi Pertimbangan Orangtua Beri Gadget ke Anak

Salah satu kuncinya, usahakan berteman dengan anak di media sosial secara akun sehingga dapat memantau aktivitas anak melalui media sosial.

5. Jangan marahi di medsos dan langsung judge

Media sosial diibaratkan muka umum. Sehingga jika ada masalah yang dianggap melanggar, jangan langsung komen ataupun membuat status dan video memarahi anak. Tapi cobalah berbicara secara langsung. Lalu, jika ada masalah usahakan tidak langsung judge (cap buruk) anak. Lakukan komunikasi dan minta penjelasan anak.

"Enggak langsung di-judge, di sanalah terjadi dialog, disanalah peran orangtua. Tidak langsung judge terhadap anak," tutupnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Rifeni
Reporter
Dini Afrianti Efendi
Category
Ragam

Berita Terkait: