Forgot Password Register

Ini Penyebab Neraca Pembayaran Alami Defisit Rp61,49 Triliun di Triwulan II

Ini Penyebab Neraca Pembayaran Alami Defisit Rp61,49 Triliun di Triwulan II Mata uang dolar dan rupiah (Foto: Antara)

Pantau.com - Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II 2018 secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD 4,3 miliar atau Rp 61,49 triliun (Kurs Rp14.300 per dolar AS).

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik, Yati Kurniati mengatakan defisit disebabkan karena surplus dari transaksi modal dan finansial belum cukup untuk membiayai neraca transaksi berjalan triwulan II 2018 yang mengalami defisit USD 8,0 miliar atau Rp114,4 triliun

"Surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan, sehingga pada triwulan II 2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD 4,3 miliar," ujarnya saat jumpa pers di Gedung Thamrin, Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (10/8/2018).

Baca juga: Hingga Agustus 2018 IHSG Turun 4,57 Persen, Ini Kata OJK

Padahal pihaknya mencatat Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2018 mencatat surplus USD 4,0 miliar atau Rp 57,2 triliun, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar USD 2,4 miliar atau Rp34,32 triliun. Hal tersebut menurutnya menjadi cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik. 

"Surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus," katanya. 

"Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri," imbuhnya.

Ke depan, kinerja NPI diprakirakan masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. 

"Defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi 3,0 persen dari PDB," imbuhnya.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD119,8 miliar atau Rp1.713,14 triliun. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Baca juga: BEI-OJK Ungkap Pengaruh Tahun Politik ke Pergerakan Pasar Modal

Menanggapi hal tersebut, Yati mengatakan sejumlah langkah telah ditempuh pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution. Pemerintah juga imbuhnya, terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di 4 (empat) daerah wisata prioritas, untuk mendukung neraca transaksi berjalan. 

"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, antara lain ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More