Pantau Flash
Fakhri Husaini Bantah Pamit dari Timnas U-19
Bom Mobil Terjang Demonstrasi Anti Pemerintah di Irak, 4 Orang Tewas
Menangi Perang Saudara, Ginting ke Final Hong Kong Open 2019
Hasil Kualifikasi MotoGP Valencia 2019: Quartararo Kalahkan Marquez
Polda Sumut Tetap 18 Tersangka dalam Serangan Bomber di Polrestabes Medan

Inspirasi Gaya Baju Kerja Kekinian

Inspirasi Gaya Baju Kerja Kekinian Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Saat membicarakan tempat kerja, dulu orang akan langsung berpikir soal ruangan atau kubikel yang terdiri dari meja kerja dengan desktop, wadah pulpen, dan tumpukan dokumen serta telepon meja.

Kini, ada pergeseran makna soal tempat kerja. Milenial utamanya tak lagi memiliki konsep soal tempat kerja sebagai ruangan yang didatangi setiap hari, karena jenis pekerjaan zaman sekarang memungkinkan pekerjannya bisa dilakukan dari jarak jauh atau paruh waktu.

Baca juga: Berkunjung ke Afrika, Meghan Markle Kenakan Baju Seharga Rp120 Ribu

Budaya kerja juga mengalami perubahan fundamental di mana tempat dan 'rasa' kerja menjadi lebih luwes. Kini kantor-kantor banyak mengurangi penggunaan kertas, orang-orang tak lagi punya meja kerja tertentu, dan diganti dengan hot desk yang bisa pindah kapan saja.

Dengan perubahan itu, konsep baju kerja juga mengalami perubahan. Sayangnya, The Guardian menyebut ikon fesyen pekerja perempuan masih berakar pada tempat kerja era 80-an dan 90-an seperti Margaret Thatcher di Downing Street, Melanie Griffith di Working Girl.

Atau baju kerja Ally McBeal, pengacara Boston yang suka mengenakan setelan celana dan busa bahu alias shoulder pads dan menenteng tas tangan yang muat buku agenda.

Semua itu disebut Associate Editor Fashion untuk The Guardian Jess Cartner-Morley tak lagi cocok untuk dipakai bekerja saat ini.

Menurutnya, saat ini, pakaian kerja untuk wanita bisa apa saja disesuaikan dengan harapan orang akan menilai kamu. Contoh, jika mengenakan celana berwarna mencolok alih-alih warna hitam, maka orang akan berpikir kamu adalah pekerja kreatif dan unik atau akan berpikir kamu orang yang tidak serius.

Berikut sejumlah kode berpaikaian menurut Jess Cartner-Morley yang bisa diterapkan.

Flat shoes

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Sepatu hak tinggi saat ini bisa dibilang toksik. Tak ada satu kantor pun yang boleh memaksa pekerja wanitanya mengenakan sepatu hak tinggi.

Dua tahun lalu, pemerintah Inggris menolak seruan untuk melarang kebijakan mewajibkan pemakaian sepatu hak tinggi. Jepang, sedang berperang melawan kewajiban mengenakan sepatu hak tinggi lewat kampanye #KuToo --dari kata kutsu, yang bermakna sepatu, kutsuu, artinya sakit--, dan #MeToo.

Namun, dari sisi fashion, rok selutut atau celana panjang kurang cocok dipadukan dengan sepatu datar. Perpaduan itu mungkin hanya cocok untuk Stellah Tennat, model asal Inggris dengan tinggi badan sekitar 1,8 meter.

Sepatu flat paling cocok digunakan untuk rok panjang midi, celana panjang semata kaki atau berpotongan lebih tinggi lagi.

Agar tampak keren, pilih sepatu jenis loafers alih-alih sepatu balet, atau pilih sepatu yang ujungnya meruncing membentuk huruf V.

Pilih kaos kaki tersembunyi agar tetap nyaman tapi terlihat indah.

Baju longgar

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Berpakaian ketat bukan berarti kamu terlihat keren saat presentasi karena kini wanita bukan dihargai berdasarkan bentuk tubuhnya.

Tak perlu pakai kaftan saat bekerja tapi pilih celana longgar berpinggang tinggi dengan kancing depan yang dipadukan dengan t-shirt atau blus yang dimasukkan.

Rok longgar atau rok lipit midi juga akan manis dipadukan dengan blazer.

Baca juga: Ternyata Skincare Mahal Belum Cukup Bikin Kulit Glowing

Mainkan warna dan motif

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Terlihat 'kantoran' sudah lama ketinggalan zaman di mana sekarang orang lebih suka tampil kasual saat pergi kerja.

Jangan takut memainkan warna-warna cerah dan motif di pilihan baju kerja. Tapi jangan pilih motif macan tutul untuk kerja, sebagai gantinya, pilih motif garis-garis atau bunga-bunga dengan dasar hitam.

Coba pakai jumpsuit yang cocok untuk menampilkan kesan dinamis.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Gilang K. Candra Respaty
Category
Ragam

Berita Terkait: