Forgot Password Register

Jaga Kualitas Aset Pembiayaan, OCBC NISP Tak Berani Naikkan Bunga Kredit

Ilustrasi (Pixabay) Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - PT Bank OCBC NISP Tbk mengaku sudah menaikkan suku bunga simpanan pada Juni 2018, namun perseroan masih menahan untuk menaikkan suku bunga kredit demi menjaga kualitas aset pembiayaan.

"Belum naik untuk suku bunga pinjaman guna memberi waktu kepada nasabah untuk menyesuaikan diri sehingga keberlanjutan portofolio secara jangka panjang terjaga," kata Parwati Surjaudajat, Presiden Direktur PT OCBC NISP, Kamis (6/7/2018).

Suku Bunga Dasar Kredit OCBC NISP per 28 Juni 2018 berdasarkan data terbaru di situs resmi OCBC NISP adalah kredit korporasi sebesar 10 persen, kredit ritel 11 persen, kredit konsumsi KPR sebesar 10,2 persen dan konsumsi non-KPR sebesar 10,75 persen.

Baca juga: Ini Jajaran CEO yang Meninggal Tragis, No 6 Buat Geger Indonesia

Sedangkan penyesuaian suku bunga simpanan, kata Parwati, dilakukan sebagai dampak kenaikan suku bunga kebijakan Bank Indonesia "7 Days (Reverse) Repo Rate" yang sejak 17 Mei 2018 telah dinaikkan sebesar 100 bps secara akumulasi.

Akibat penaikan suku bunga kebijakan tersebut, lanjut Parwati, OCBC terus mengawasi potensi pengetatan penghimpunan likuiditas di sisa tahun. Selain karena potensi perlombaan kenaikan suku bunga simpanan, pengetatan likuiditas juga bisa sangat mungkin terjadi karena rezim pengetatan kebijakan moneter global yang bisa membalikkan arus modal dari Indonesia.

"Likuiditas ke depan cukup harus dicermati, bukan semata karena persaingan suku bunga tapi kondisi di lapangan juga," ujar Parwati.

Baca juga: BTN Proyeksikan Marjin Bunga Bersih Turun Jadi 4,5-4,75 Persen

Seperti diketahui, Bank Sentral AS The Federal Reserve akan menaikkan bunga acuannya hingga empat kali tahun ini dan Bank Sentral Eropa akan menurunkan nilai asetnya yang diperkirakan akan diikuti dengan kenaikan suku bunga pada semester I 2019.

Untuk menambah likuiditas, Bank OCBC NISP akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I tahun 2018 senilai Rp1 triliun. Obligasi tersebut terbagi dalam tiga seri yakni Seri A dengan total Rp655 miliar, Seri B total Rp3 miliar, dan Seri C dengan total nilai Rp342 miliar.

Ketiga seri tersebut dikenakan tarif (pricing) dan tenor yang berbeda. Seri A memiliki tenor 370 hari dengan bunga 6,75 persen per tahun, Seri B memiliki tenor tiga tahun dengan bunga 7,25 persen, dan Seri C memiliki tenor tiga tahun dengan bunga 7,75 persen.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More