Forgot Password Register

Headlines

Kamu Jadi Korban Skimming? Lakukan Langkah Ini agar Uangmu Kembali

Kamu Jadi Korban Skimming? Lakukan Langkah Ini agar Uangmu Kembali Ilustrasi skimming. (Pixabay)

Pantau.com - Beberapa hari ini, Indonesia sedang dikagetkan dengan modus pencurian dana nasabah dengan sistem skimming. Hal ini mencuat setelah Polda Metro Jaya  menangani kasus pembobolan ATM bank atau skimming dengan tersangka RP yang diduga merupakan salah satu pengurus di Tunas Indonesia Raya (Tidar), organisasi pemuda Partai Gerindra.

Perlu diketahui bahwa skimming merupakan tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Skimming adalah salah satu jenis penipuan yang masuk ke dalam metode phishing.

Baca juga: Baru Kantongi Rp217,21 Triliun, APBN 2019 hingga Februari Defisit

Pelaku bisa mendapatkan data nomor kartu kredit atau debit korban menggunakan metode sederhana seperti halnya fotokopi, atau metode yang lebih canggih seperti menggunakan perangkat elektronik kecil (skimmer) untuk menggesek kartu lalu menyimpan ratusan nomor kartu kredit korban.

Nah jika terlanjut uang anda sudah terkena skimming cepat lakukan langkah ini agar uang anda kembali.

1. Datangi Bank Bersangkutan


Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Anda wajib mendatangi petugas bank tempat anda menyimpan uang. Pastikan anda bisa bertemu kepala cabang bank tersebut agar segera diurus. Nantinya, pihak bank akan membantu mengurus hilangnya uang di rekening bank. 

Selanjutnya, anda akan diminta menuliskan kronologis kejadian hilangnya uang di rekening. Pastikan juga bahwa anda tidak melakukan kelalaian atas hilangnya uang di rekening bank tersebut.

2. Pelaporan Tidak Lebih dari 20 Hari Kerja

Perlu diingat, pelaporan kasus hilang uang ke pihak bank tidak melewati 20 hari kerja. Sebab, terdapat batas waktu pelaporan jika masalah ini ingin diselesaikan.

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/1/PBI/2014 tanggal 21 Januari 2014 Tentang Perlindungan Konsumen Jasa Sistem Pembayaran dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 16 /16/DKSP tanggal 30 September 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Perlindungan Konsumen Jasa Sistem Pembayaran.

Dimana, bank seharusnya menyelesaikan penanganan pengaduan dalam jangka waktu paling lama 20 hari kerja sejak pengaduan diterima dan disertai dengan dokumen pendukung secara lengkap.

Baca juga: Buat Opang dan Ojol! Kemenhub Resmi Terbitkan Permen No 12 Tahun 2019

3. Datangi Kantor Bank Indonesia


Gedung Bank Indonesia (Foto: Pantau.com/Yusuf Fadila)

Apabila bank tidak menyelesaikan penanganan pengaduan ini dalam 20 hari, anda harus secepatnya mendatangi Bank Indonesia, tepatnya ke Divisi Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran (PKSP). Batasan kerugian yang bisa dibantu oleh Bank Indonesia adalah Rp500 juta.

Pada waktu memenuhi undangan klarifikasi pengaduan, anda harus menyiapkan data-data pendukung. Bank Indonesia akan membantu upaya mediasi. Namun, keputusan akhir tetap ada di bank tempat anda menyimpan uang.

4. Lapor OJK


Gedung OJL (Foto: Situs OJK)

Bersamaan waktu dengan pengaduan Bank Indonesia, anda juga bisa menelepon layanan konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di nomor telepon 1500655 atau mengirimkan email di konsumen@ojk.go.id. 

5. Datang ke BPSK

Jika proses mediasi masih mengalami kendala, disarankan agar Anda segera menghubungi Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di tingkat kota/kabupaten. Perlu diketahui, BPSK bernaung di bawah Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Namun ingat secara birokrasi, anda bisa melapor kesini setelah menghubungi pihak Bank Indonesia dan OJK.

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat 7,2 Persen, Jadi Rp5.404 Triliun

6. Lapor YLKI


Formulir pengaduan YLKI (Foto: situs YLKI)

Di lembaga ini anda juga meminta bantuan mediasi, biasanya pihak YLKI juga membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya.

7. Menempuh Jalur Hukum

Jika semua proses sudah anda lakukan tetapi tidak membuahkan hasil juga, maka lakukan langkah hukum. Langkah ini sebagai pilihan terakhir.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More