Forgot Password Register

Headlines

Kapolri: Pelaku Serangan Bom Gereja di Surabaya Diduga Satu Keluarga

Kapolri: Pelaku Serangan Bom Gereja di Surabaya Diduga Satu Keluarga Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018) (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Pantau.com - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut jajarannya telah berhasil mengidentifikasi pelaku pengeboman yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.

"Tim sudah berhasil mengidentifikasi, jadi pelaku ini diduga satu keluarga yang melakukan serangan di Gereja Jalan Arjuna, Pantekosta menggunakan Avanza diduga keras adalah orang tuanya, bapaknya, bernama Dita Supriyanto," kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Ia mengatakan pihaknya mendapatkan perintah langsung dari Presiden agar segera melakukan investigasi secepat mungkin. "Dan itu dituntaskan, dan dari tadi pagi kita bergerak," katanya.

Tito menjelaskan kronologis hasil investigasi timnya yang menemukan bahwa pelaku yang menggunakan mobil sebelumnya menurunkan istrinya dan dua anaknya yang berjenis kelamin perempuan.

Baca juga: Polri: Sel-sel Tidur Terorisme Bangkit Lagi Jelang Ramadan

"Dua anak perempuan, istrinya diduga meninggal bernama Puji Kuswati, diduga, kemudian yang perempuan ini bernama Fadilah Sari umur 12 tahun, dan Pamela Rizkita kelahiran Surabaya semua, kecuali Puji Kuswati kelahiran Banyuwangi," ujar Tito.

Pamela salah satu anak yang dibawa bahkan baru berumur 9 tahun.

Sementara, untuk insiden bom di Gereja Santa Maria diduga dilakukan oleh 2 orang laki-laki yang diduga dua putra dari Dita.

"Ini yang satu namanya Yusuf Fadil usianya 18 tahun dan Firman Halim yang usianya 16 tahun semuanya adalah serangan bom bunuh diri tapi jenis bom berbeda," ungkapnya.

Baca juga: Kutuk Bom Surabaya, Menag: Pelaku Tidak Pegang Nilai Agama

Sedangkan bom yang meledak di Jalan Arjuna teridentifikasi menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan setelah itu ditabrakkan. Kapolri memperkirakan ledakan bom terbesar yakni ledakan yang menggunakan mobil yang ditabrakan itu.

"Kemudian untuk yang di gereja Jalan Diponegoro, GKI, itu tiga-tiganya menggunakan bom yang diletakkan pada pinggang, jadi dibelt, namanya bom pinggang, cirinya sangat khas karena yang rusak adalah bagian perutnya saja baik ibunya maupun anaknya sedangkan bagian atas dan bawah masih utuh tapi di tempat itu tidak ada korban dari masyarakat," tutur Tito.

Selanjutnya bom yang di jalan Ngagel yakni Gereja Katholik diduga menggunakan mobil dengan bom yang dipangku.

"Ini kita belum paham jenis bomnya karena pecah tapi efeknya besar dan dibawa oleh 2 orang dengan sepeda motor, jadi ini ciri khas dari bom-bom dengan bunuh diri, tapi jenis bom berbeda dengan bahan peledaknya apa akan dilakukan penyelidikan Labfor Polri," kata Kapolri.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More