Pantau Flash
Anggaran Pembangunan Perkeretaapian di Ibu Kota Baru Mencapai Rp209,6 T
PB Djarum Fokus Cetak Tunggal Putra
Erupsi Gunung Merapi Masih Akan Terus Terjadi
Tol Japek Elevated Dioperasionalkan Fungsional saat Libur Natal-Tahun Baru
Iwan Bule: Shin Tae-yong Salah Satu Pelatih Berprestasi di Dunia

Kata Menko Darmin Suku Bunga Turun, Kemampuan Orang 'Ngutang' Meningkat

Kata Menko Darmin Suku Bunga Turun, Kemampuan Orang 'Ngutang' Meningkat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kanan) (Foto: Antara/Galih Pradipta)

Pantau.com - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan penurunan suku bunga acuan 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dapat meningkatkan kembali kemampuan pinjaman masyarakat atau dunia usaha untuk mendorong kegiatan perekonomian.

"Ini akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk meminjam, baik kemampuan untuk berusaha secara umum maupun perumahan, segala macam," ujar Darmin Nasution di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Darmin Nasution mengatakan penyesuaian suku bunga ini merupakan hal yang wajar karena saat ini negara maju lainnya juga mulai menurunkan suku bunga acuan untuk mengantisipasi kondisi global yang diprediksi masih mengalami kelesuan.

"Kebijakan moneter masih berfungsi untuk mempengaruhi, ini bisa mengantisipasi yang telah dilakukan negara lain. Mereka menurunkan policy rate, kalau kita tidak turun, nanti terlalu tinggi," ujarnya.

Baca juga: 11 Tahun 'Numpang', Warga Ini Girang Dapat Sambungan Listrik Gratis

Darmin Nasution mengharapkan kebijakan moneter ini dapat mulai memberikan dampak dalam jangka pendek maupun panjang terhadap kinerja perekonomian dalam negeri, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun penguatan investasi.

Ia juga memastikan pemerintah menyiapkan kebijakan dari sisi fiskal untuk mendukung kebijakan bank sentral, salah satunya melalui peraturan Omnibus Lawterkait kemudahan berusaha dan revisi regulasi mengenai perpajakan guna memperkuat investasi.

Baca juga: Tak Hanya China-AS, Ekonomi Dunia Melambat dan Bisa Menuju Resesi

Sebelumnya, Bank Indonesia untuk ketiga-kalinya secara beruntun memangkas suku bunga acuan 7-day Reverse Repo Rate sebesar 0,25 persen menjadi 5,25 persen pada 18-19 September 2019 yang dilengkapi dengan rangkaian pelonggaran kebijakan makroprudensial, untuk mencegah dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis, mengatakan pemangkasan beruntun suku bunga acuan sejak Juli hingga September 2019 ini merupakan kebijakan antisipatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, di tengah ekonomi global yang terus melambat utamanya karena perang dagang AS dan China yang tak kunjung usai.

"Kebijakan ini juga konsisten dengan estimasi inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran inflasi dan imbal hasil dari aset keuangan domestik yang tetap menarik," kata Perry.

Terhitung sejak Juli 2019, BI memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen sebanyak tiga kali hingga September 2019 ini. Pelonggaran ini juga dilakukan setelah pada 2018, Otoritas Moneter menaikkan suku bunga acuan hingga 1,75 persen untuk membendung keluarnya arus modal asing di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global saat itu.

Pada tahun ini, Bank Sentral ingin mendorong pertumbuhan ekonomi domestik bisa mencapai 5,1-5,2 persen dan 5,3 persen di 2020, meskipun dampak perang dagang global yang semakin deras melanda negara-negara berkembang.

Perry juga meyakini imbal hasil aset keuangan berdenominasi rupiah tetap menarik untuk menyerap aliran modal asing dan menjaga ketahanan ekonomi eksternal atau Neraca Pembayaran Indonesia.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: