Forgot Password Register

Kata OJK Pelemahan Rupiah Masih Aman untuk Jasa Keuangan

Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) dan Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo (kanan) (ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa) EDITOR Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) dan Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo (kanan) (ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa) EDITOR

Pantau.com - Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, meskipun rupiah merosot, kondisi Industri jasa keuangan saat ini sangat solid, didukung dengan data pemodalan yang cukup kuat, likuiditas yang baik, dan tingkat risiko yang terkendali. 

"Rasio kecukupan modal perbankan terjaga di level 23%," ujarnya.

Demikian juga halnya dengan tingkat pemodalan perusahaan asuransi yang berada di atas threshold. Sementara itu likuiditas perbankan dalam kondisi yang cukup, "excess reserve" perbankan mencapai sekitar Rp518 triliun. Hal ini memberikan "buffer" yang cukup bagi sektor jasa keuangan untuk bertahan menghadapi tekanan.

Baca juga: Meraba Porsi Pembayaran Premi Pemerintah di Asuransi Bencana

Intermediasi sektor jasa keuangan juga menunjukkan tren yang meningkat. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 12,12% yoy dengan NPL yang cukup rendah yaitu sebesar 2,74%. Pertumbuhan piutang perusahaan pembiayaan pun cukup baik yaitu bertumbuh 5,82% dengan NPF sebesar 3,11%.

"Kami terus memonitor dan mengevaluasi perkembangan risiko kredit baik perbankan maupun perusahaan pembiayaan untuk mencegah terjadinya krisis di sektor jasa keuangan," tambahnya.

Sementara itu, meskipun yield obligasi dalam Rupiah dalam trenmeningkat, penggalangan dana di pasar modal tumbuh positif, mencapai sekitar Rp130 triliun (ytd), dengan sejumlah Rp20 triliun lainnya masih dalam.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More