Pantau Flash
Indonesia Pimpin Klasemen ASEAN School Games 2019
Marc Klok: Saya Jamin PSM Juara Piala Indonesia 2018-2019
Harga Cabai Merah Keriting Tembus Rp100.000 per Kilogram
Satu Anggota YONIF 755 Tertembak dalam Kontak Senjata di Nduga
Kevin/Marcus Tantang Hendra/Ahsan di Final Indonesia Open 2019

Kenaikkan Tarif Batas Bawah Pesawat 35 Persen Dinilai Ancam Daya Beli

Headline
Kenaikkan Tarif Batas Bawah Pesawat 35 Persen Dinilai Ancam Daya Beli Ilustrasi Bandara (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Kecelakaan maskapai penerbangan menjadi salah satu yang mendorong pemerintah untuk menaikkan tarif batas bawah. Salah satu tujuannya untuk memastikan persaingan harga lebih sehat. 

Rencananya kenaikkan tarif batas bawah bahkan mencapai 30 hingga 35 persen. Namun, Presiden Direktur Aviatory Indonesia, Ziva Narendra menilai kenaikkan tarif batas atas maupun batas bawah yang dinilai masih masuk akal yakni dikisaran 1-5 persen.

"Kalau pergeseran masih antara 1-5 persen masih masuk akal, tapi kalau lebih dari itu baik atas atau bawah saya kahwatir komponen dari 4 (motto 3S 1C/Safety, Security, Service, dan Compliance) pasti harus dikorbankan," ujarnya saat diskusi di Millenium Hotel Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2018).

Baca juga: Ekonomi Digital Bakal 'Booming', Millennials Sudah Siap Banting Setir?

Meski demikian pihaknya yakin kisaran yang ditentukan telah melalui perhitungan yang matang. Namun pada beberapa jenis pelayanan kata di kenaikkan tarif batas bawah justru menambah beban. Sebab kenaikkan harga bisa membuat masyarakat memilih jasa transportasi lain. 

"Hukum yang gak bisa dilanggar kalau terlalu mahal se-premium apapun menjual first class bisa ada market segemen kaya gitu namun, kalau lihat tbb ada invisible hand tadi kalau mendekati profitable kalau tidak bisa absorb sementara harus tetap untung, itu harus ada yang dikorbankan," katanya. 

Menurutnya kebijakan ini tentu membuat harus ada efisiensi bila permintaan menurun. Hal ini tentu juga menimbulkan resiko. Terutama dari sisi daya beli yang akan menurun ditengah mimpi Pemerintah meningkatkan geliat pariwisata.

"Karena Indonesia masih berkembang marketnya juga masih berevolusi daya beli ekonomi menengah-bawah  mengalami banyak perubahan 10 tahun terakhir, daya beli untuk air travel kalau dulu kalau gak terpaksa gak akan, sekarang sudah jadi kebutuhan

Baca juga: Wuih! Harga Motor Listrik Gesits Setara Yamaha Keluaran Terbaru

"Jadi kenapa harus ada parameter yang jelas karena kita masih negara yang volatile yang masih berkembang termasuk industri penerbangannya," pungkasnya.


Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Nani Suherni
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: