Pantau Flash
Kapolri Sebut Pelarangan Demonstrasi Agar Negara Tak Kecolongan
Akses Keluar Tol Slipi Arah Gatot Subroto Ditutup karena Isu Demo
IMF: Perekonomian Dunia Melambat ke Titik Terendah
Nol Prestasi, AC Milan Tekor Banyak Musim Ini
Panglima TNI: Pengamanan Pelantikan Presiden Dimulai Hari Ini

Keponakan Mahfud MD Sebut TKN Ajarkan Curang, PDIP Angkat Bicara

Keponakan Mahfud MD Sebut TKN Ajarkan Curang, PDIP Angkat Bicara Tjahjo Kumolo (Foto: Pantau.com/Lilis Varwati)

Pantau.com - Saksi yang dihadirkan kuasa hukum pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di MK mengungkap pelatihan untuk saksi yang digelar oleh Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin.

Dalam pelatihan tersebut diajarkan jika melakukan kecurangan adalaha bagian dari demokrasi. Politisi senior PDI Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo membantah adanya materi seperti itu. Menurutnya, semua bisa diklarifikasi.

"Nggak ada. Saya kira itu perlu diklarifikasi, nggak ada," ujar Tjahjo ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Baca juga: Saksi 02 Sebut Terima Materi "Kecurangan Bagian Demokrasi" dari TKN

Sebelumnya diberitakan, saksi kubu 02 di persidangan sengketa Pilpres 2019 di MK yakni Hairul Anas mengungkapkan, pelatihan untuk saksi yang digelar oleh Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin mengajarkan untuk melakukan kecurangan.

"Jadi saya adalah caleg dari Partai Bulan Bintang yang merupakan pendukung Paslon 01, kemudian saya ditugaskan hadir dalam pelatihan saksi," ujar saksi Hairul Anas Suaidi dalam sidang lanjutan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (20/6/2019) dini hari.

Dalam pelatihan yang digelar beberapa bulan sebelum pemungutan suara di Jakarta itu, Anas mengaku mendapatkan materi pelatihan kecurangan bagian dari demokrasi.

Baca juga: Bermodal Video YouTube, Saksi 02 Sebut Gubernur Ganjar Melanggar 

Menurut keponakan mantan hakim MK Mahfud MD itu, materi yang disajikan dirasa mengagetkan dan membuatnya merasa tidak nyaman dalam mengikuti pelatihan itu.

Ia mencontohkan tentang pengerahan aparat untuk kemenangan salah satu pasangan calon yang menurut dia tidak sesuai dengan prinsip demokrasi.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Sigit Rilo Pambudi
Category
Nasional

Berita Terkait: