Forgot Password Register

Ketika Isu TKA Membuat 'Takut' Rakyat Indonesia

ilustrasi Tenaga Kerja Asing (Foto: Pixabay) ilustrasi Tenaga Kerja Asing (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Isu serbuan tenaga kerja asing (TKA) yang terus bergulir, dinilai oleh Lembaga swadaya masyarakat Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LSM Lekat) telah dipolitisasi sedemikian rupa tanpa argumentasi yang jelas, sehingga menimbulkan ketakutan di masyarakat.

"Isu TKA ini telah dipolitisasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan ketakutan masyarakat, padahal basis argumentasi penyebar isu TKA tidak jelas dan bertentangan dengan fakta yang ada di lapangan, terutama isu masuknya pekerja Tiongkok ke Indonesia," ujar Direktur Lekat Abdul Fatah, dalam dialog ketenagakerjaan yang diselenggarakan LSM Lekat di Jakarta, Jumat (27/4/2018).

Abdul Fatah mengatakan isu tersebut sengaja dimainkan sedemikian rupa, seolah-olah sebagai sebuah fakta, padahal, kata dia, pemerintah saat ini telah bekerja dengan baik mengatasi persoalan ketenagakerjaan.

Baca juga: Sarat Muatan Politis, Golkar Ogah Teken Pansus Tenaga Kerja Asing

Fatah menekankan saat ini Indonesia menjadi bagian dari ASEAN Free Trade Area (AFTA), di mana aliran barang, jasa, investasi, permodalan dan tenaga kerja menjadi bebas. Namun keterlibatan Indonesia dalam AFTA menurut dia, sebaiknya tidak dipandang sebagai sebuah bahaya, melainkan sebagai peluang sekaligus tantangan.

Dia mengatakan sebuah bangsa tidak akan kehilangan identitas dan jati dirinya dengan menjadi bangsa yang terbuka. Sebab faktanya, ujar dia, China yang menguasai surat utang Amerika Serikat sebesar 1,15 triliun dolar AS, namun negara itu tidak serta merta dikuasai Amerika Serikat.

Selain itu, kata dia, Arab Saudi juga melakukan investasi di China hingga mencapai angka Rp870 triliun, namun rakyat China tidak pernah merasa dijajah oleh Arab.

"Jumlah TKI di Taiwan 252.000, TKI yang bekerja di China 81.000, TKI di Hongkong 153.000, di Macau 16.000, apakah mereka merasa dijajah oleh Indonesia, kan tidak sama sekali," tegas Fatah.

Baca juga: MenkumHAM: Isu TKA Terlalu Dipolitisasi dan Dibesar-besarkan

Peneliti muda Paramadina Public Policiy Institute Muhammad Ikhsan dalam acara yang sama mengatakan Indonesia membutuhkan tenaga kerja asing untuk alih teknologi. Sebab, hampir semua negara yang melakukan investasi selalu menyertakan tenaga-tenaga handalnya untuk mengoperasikan alat-alat berat atau untuk mengawal investasi yang dilakukan.

"Ini merupakan fenomena yang wajar. Tidak mungkin ada negara mau investasi tanpa melakukan kontrol atas modal yang dikeluarkan," kata Ikhsan.

Ikhsan mengatakan berdasarkan data tahun 2017, jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia sebanyak 85.974 orang, atau kurang dari 0,1 persen total penduduk Indonesia. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More