Forgot Password Register

Headlines

Kondisi Ekonomi Indonesia Diambang Krisis?

Diskusi ekonomi (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika) Diskusi ekonomi (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di Indonesia sejak awal tahun banyak diimplikasikan sebagai krisis. Bahkan seringkali dibandingkan dengan krisis moneter yang terjadi di tahun 1998 silam. 

Terkait hal tersebut, Ekonom Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Faisal Rahman menilai harus melihat secara menyeluruh. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal.

Salah satunya dampak dari Bank Sentral AS yang sedang aktif menaikkan suku bunganya sehingga banyak dana asing yang keluar dari Indonesia. 

"Kalau dari kondisi saat ini kita pertimbangkan dipengaruhi internal eksternal, The Fed lagi aktif mengambil dolar mereka nya juga, ada trade war yang menimbulkan investor mau taruh dimana gitu, dari kondisi ini jadi ada spekulasi atau ketidakpastian," ujarnya dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018).

Baca juga: Dekat dengan Kehidupan Kita, Apakah Produk Amerika Ini akan Naik Harga?

Sementara kondisi internal dinilainya fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. "Di internal perekooonomian kita pertumbuhan cukup tinggi di negara-negara tetangga kita masih tinggi, inflasi umum 3,2 persen, inflasi pangan di 4 persen, cadev (cadangan devisa) kita tinggi jika dibandingkan cadev 1998, kurs ktia pelenmahannya ada di sektiar 11 persen yoy, itu jauh, NPL juga kecil 2,67 persen di juni," katanya.

"Dari situ kita baru bisa melihat apa ini fenomena yg sama dengan 1998 atau tidak? indonesia masih dalam kondisi aman, defisit transaksi berjalan/ CAD (Current Account Deficit) iya, tapi inflasinya terjaga, kestabilan ini yang dijaga pemerintah, kepanikan yang tidak muncul," imbuhnya. 

Baca juga: Tak Hanya Soeharto, Presiden RI Ini Juga Lengser Tersandung Masalah Krisis

Chief Investment Officer IndoSterling Capital, Fitzgerald Stevan Purba menambahkan kondisi yang terjadi saat ini belum bisa dikatakan krisis. Pasalnya bila dibandingkan dengan Argentina dan Venezuela, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Namun menurutnya, karena Indonesia digolongkan sebagai negara yang setara dengan keduanya sehingga terkena sentimen negatif.

"Saya belum bisa bilang benar, saat ini contohnya langsung (negara krisis) Argentina dan Venezuela, (kita) masih jauh dari sana, tapi karena kita tergolong negara satu keklompok dengan mereka jadi kena juga kita," ungkapnya.

Lebih lanjut menurutnya, rupiah yang sedang bergejolak saat ini sedang berproses mencari titik keseimbangan untuk menemukan stabilitas yang baru.

"Rupiah sedangkan mencari keseimbangan baru, intinya permasalahan kita dari CAD (Current Account Deficit/ Defisit Transaksi Berjalan), intinya (dipengaruhi) dari faktor eksternal," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More