Pantau Flash
YLKI Desak Anies Baswedan Atur Keberadaan Otopet Listrik
Puan: Brimob Harus Makin Galak dengan Terorisme!
Penerimaan Bea Keluar Nikel Ekspor Melonjak Akibat Larangan Ekspor
13 Aliran Kepercayaan Sesat Tumbuh di Bekasi
PSSI Tak Tahu Keberadaan Simon McMenemy saat Ini

Konsep Habibienomics Dinilai Cocok untuk Diterapkan saat Ini

Konsep Habibienomics Dinilai Cocok untuk Diterapkan saat Ini BJ Habibie (Foto: Dok Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Pantau.com - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Andry Satrio Nugroho mengatakan almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie menyumbang banyak jasa, salah satunya mendorong keunggulan kompetitif produk Indonesia.

"Habibie mulai menciptakan produk manufaktur yang memiliki nilai tambah. Nilai tambahnya yakni riset dan teknologi," kata Andry, Kamis (12/9/2019).

Menurut dia, keunggulan kompetitif yang ada dalam konsep ekonomi Habibienomics tersebut mengubah konsep Orde Baru yang saat itu lebih bertumpu dengan keunggulan komparatif.

Baca juga: Kisah Luhut Pernah Diminta Habibie untuk Perbaiki Hubungan dengan Singapura

Keunggulan komparatif Orde Baru itu, lanjut dia, lebih banyak berdasarkan sumber daya alam, padahal cadangannya tidak banyak dan tidak bertahan lama.

Ia menilai konsep keunggulan kompetitif Habibienomics tersebut relevan untuk diterapkan saat ini.

Apalagi, perkembangan ekonomi global saat ini, kata dia, tidak menentu seperti adanya perang dagang antarnegara.

"Ini menjadi perhatian kita karena selama minyak atau pertambangan yang menjadi fondasi utama (pendapatan) negara. Ketika ada perang dagang, kedua komoditas itu bisa terdampak, padahal kalau kuasai teknologi, pasti perusahaan luar negeri akan datang ke Indonesia," katanya.

Baca juga: Habibie Pernah Ingatkan Anies Soal Reklamasi: yang Dihadapi Raksasa Lho

Pengamat INDEF itu menambahkan Habibie merupakan pemimpin yang visioner dan memiliki rasa nasionalisme tinggi.

Buktinya, lanjut dia, Habibie menjadi sosok utama yang berada di balik pembuatan pesawat buatan dalam negeri yang saat ini dikelola BUMN, PT Dirgantara Indonesia.

Jasa lainnya, kata dia, almarhum Habibie mampu membalikkan keadaan ketika nilai tukar rupiah anjlok yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000-an menjadi kisaran Rp7.000-an.

Andry menyebutkan beberapa cara yang ditempuh almarhum Habibie yakni menggeser Bank Indonesia menjadi lembaga profesional, tidak lagi berada dalam kendali pemerintah.

Selain itu, lanjut dia, Habibie tetap membuka investasi luar negeri namun tetap melindungi aspek strategis dalam negeri.


Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - TIH
Category
Ekonomi

Berita Terkait: