Forgot Password Register

Headlines

Kronologis Tewasnya Sosis, Bocah Korban Sembako Maut Monas

Kronologis Tewasnya Sosis, Bocah Korban Sembako Maut Monas Orangtua Mahesa korban tewas sembako Monas (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - Junaedi (41) dan Superni (36) kedua orangtua Mahesa Junaedi (12), korban tewas dalam pembagian sembako di Monas pada Sabtu, 28 April 2018, membeberkan secara lengkap kronologis yang menewaskan putra sulungnya itu. 

Dengan berlinang air mata, Junedi menceritakan kesedihan mendalamnya saat ditemui Pantau.com di rumahnya, di Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu, (2/5/2018). Menurut Junaedi, saat itu libur sekolah ia melarang Mahesa bermain keluar, dan tidak memperbolehkan pergi. 

Baca juga: Ibu Korban Tewas Sembako Maut Laporkan Ketua Panitia ke Bareskrim

Namun ketika Junaedi pergi bekerja, Akmal, salah seorang temannya Sosis (sapaan akrab Mahesa), mengajak Sosis untuk mengikuti acara gratis di Monas.

Saat itu Superni sedang berobat mengobati April, adik Mahesa, ke rumah sakit dan tiba di rumah sudah dalam keadaan kosong.

"Kosong di rumah udah enggak ada siapa-siapa," kata Superni.

Mahesa semasa hidup (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)


Hingga pada sore harinya, Junaedi dan Superni mendapati kabar bahwa Mahesa hilang. Sedangkan Akmal berhasil tiba di rumah dengan selamat.

"Saya sama istri dan beberapa saudara langsung ke Monas. Saat itu enggak boleh masuk, tapi saya bilang 'anak saya hilang, saya mau cari anak saya," kata Junaedi dengan nada meninggi.

Saat itulah ia dengan beberapa saudara serta tetangga menyebar di sekitaran Monas dan Masjid Istiqlal, namun tak kunjung menemui Mahesa.

"Di sana juga enggak ada bagian informasi, cuma bilang posko-posko. Sampai saya tanya Satpol PP, dibantu, dicari, dan saya sebarin foto," kata Junaedi.

Junaedi (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)


Sampai akhirnya ada salah satu petugas yang menghampiri dan menanyakan ciri-ciri anaknya. Lantas Junaedi langsung dibawa ke RSUD Tarakan.

"Di sana firasat saya enggak ada anak saya kenapa-kenapa, saya mikirnya dibawa (diculik) aja. Sampai akhirnya saya dibawa ke ruangan pasien dan ditanya ini anak bapak bukan, saya bilang 'bukan'," katanya seraya menghela nafas, sebelum akhirnya melanjutkan.

Baca juga: Usut Tuntas Kasus Sembako Maut Monas, Polisi Bentuk Tim Khusus

"Saya dibilang suruh 'yang sabar ya pak', saya dibawa ke ruangan dan sampai di sana anak saya udah jadi mayat," katanya dengan berlinang air mata.

Setelah itu, Junaedi lantas meminta keterangan dokter apa yang terjadi dengan anaknya. Di sana dijelaskan dokter jika anaknya dehidrasi dan salah satu pembuluh darahnya pecah. 

Tangis Junaedi pun pecah saat mengetahui anaknya telah pergi untuk selama-lamanya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More