Forgot Password Register

Masyarakat Diminta Tak Terjebak Janji Kampanye Capres Soal Ketersediaan Pangan

Pedagang di pasar tradisional (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika) Pedagang di pasar tradisional (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Masyarakat diingatkan untuk tidak terjebak pada kampanye pangan murah, sementara pasangan capres dan cawapres yang akan berkompetisi pada Pilpres 2019 diminta memperhatikan kebijakan pangan nasional.

Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni meminta, isu pangan tidak dijadikan komoditas politik.

"Jangan cuma sekadar janji pangan murah atau sembako murah karena itu mitos yang tak mungkin diselesaikan oleh siapapun presiden dan wakilnya," kata Syahroni, di Jakarta, Sabtu (11 Agustus 2018).

Baca juga: 'Warning' Apindo untuk Capres-Cawapres: Sektor Riil hingga TK Berpendidikan Rendah

Menurut Syahroni, keberpihakan pada rakyat miskin bukan dengan pangan murah karena rakyat miskin ada yang berprofesi sebagai kaum urban dan kaum petani. "Kebijakan pangan murah sama saja membunuh petani," kata Syahroni.

Ia mengatakan di desa-desa para petani dan masyarakat yang bergantung pada aktivitas pertanian justru menikmati harga pangan yang tinggi.

"Dalam definisi yang lebih luas, penampung produk pertanian, pengolah dan pengepul juga petani yang juga rakyat Indonesia," kata Syahroni.

Lantaran itu yang lebih tepat adalah kebijakan stabilisasi harga pangan pada titik keseimbangan.

"Sederhananya adalah petani untung dan kaum urban terjangkau. Jadi jargonnya harga yang adil buat petani dan layak buat konsumen (kaum urban)," kata Syahroni.

Baca juga: Pasca Pendaftaran Capres-Cawapres, ESDM Jamin Investasi Migas Tak Terganggu

Ia mengatakan persoalan pangan memang harus diatasi lebih realistis dan sistemik jangan sekadar janji dan mitos penyelesaian yang menyesatkan. Sebut saja pembangunan pertanian dan pedesaan yang lebih komprehensif menghadapi perkembangan zaman justru menjadi jawaban agar harga pangan stabil.

Desa-desa didorong meningkatkan produksi dengan pertanian yang efesien dan adaptif, penguatan peran bulog untuk rakyat, serta diversifikasi konsumsi pangan sebagaimana kearifan lokal.

"Industri pangan di pedesaan berbasis UMKM juga harus didorong," kata Syahroni.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More