Forgot Password Register

Memahami Sosok Zidane di Balik Kesuksesannya

Zinedine Zidane. (Foto: Reuters/Michael Dalder) Zinedine Zidane. (Foto: Reuters/Michael Dalder)

Pantau.com - Memiliki reputasi mendunia saat berstatus pemain sepakbola profesional belum tentu kesuksesan terus berlanjut dalam karier kepelatihan. Menciptakan racikan ampuh dengan menyamakan visi permainan dengan 11 pemain di lapangan bukan tugas mudah, berbanding terbalik ketika menjadi seorang pemain.

Perjalanan karir Zinedine Yazid Zidane terbilang begitu mengagumkan. Baik semenjak menjadi pemain atau pelatih, tercatat ada 13 gelar juara ia dapatkan ketika berseragam Juventus dan Real Madrid.

Bergabung dengan dua tim raksasa beda negara membuat Zidane tumbuh menjadi seorang peracik ulung. Dirinya begitu banyak menyerap ilmu dari pelatih andal, Marcelo Lippi. Bersama sang master, pria asal Prancis itu telah bermain sebanyak 124 kali dari 1996–2001, angka ini lebih banyak ketimbang di bawah Vicente del Bosque (98) dan Carlo Ancelotti (88).

Zidane saat berdiskusi dengan Marcelo Lippi. (Foto: Istimewa).

Pada awal tahun 2016, Zidane ditunjuk menggantikan peran Rafael Benitez. Maklum Benitez tak mampu mengangkat mental bertarung para pemain El Real. Memiliki minim pengalaman menjadi seorang pelatih, tak membuat sosok berusia 45 tahun itu minder. Justru ia mengaku pengalaman lah yang mengajarkannya.

Baca Juga: 5 Kisah Perjalanan Liverpool Menuju Panggung Eropa

"Saya merupakan seorang pemain selama 18 tahun. Saya telah berurusan dengan banyak pelatih, banyak pemain yang sangat bagus, banyak ego. Saya mengetahui ruang ganti dengan sangat baik dan saya tahu pasti apa yang melintas di kepala para pesepakbola," ujar Zidane seperti dikutip Pantau.com dari Reuters, Kamis (24/5/2018).

Pria yang berposisi gelandang selama menjadi pesepakbola aktif itu telah menyamai pencapaian sejumlah pelatih hebat seperti Arrigo Sacchi, Alex Ferguson, Pep Guardiola, dan Jose Mourinho dengan dua kali memenangi trofi Liga Champions.

Zidane saat menjadi asisten dari Carlo Ancelotti. (Foto: Reuters)

Ya, Zidane telah membawa Los Blancos menjuarai trofi kuping besar di musim 2015/2016 dan 2016/2017, kini ia memiliki peluang untuk membawa Real Madrid hattrick gelar. Namun, pelatih berdarah Aljazair itu tetap merendah, selain mendapatkan pengalaman dan ilmu di masa lalu karena hasrat dan harapan yang bisa membuatnya sukses.

"Itu sangat penting bagi saya namun itu bukan satu-satunya hal. Ada banyak pekerjaan dan filosofi di belakang ini. Saya bukan pelatih terbaik, saya bukan juru taktik terbaik, namun saya memiliki sesuatu yang lain, hasrat dan harapan. Itu lebih bernilai," tambahnya.

Sebagai seorang legenda, Zidane mampu menjadi panutan para armadanya. Seperti yang dikatakan kapten Real Madrid saat ini, Sergio Ramos. Ramos menilai sang entrenador begitu mengerti atmosfer ruang ganti tim dan diharapkan bisa terus melatih di klub Ibu Kota, Spanyol.

"Zidane paham benar bagaimana untuk menangani ruang ganti yang rumit dengan sensitifitas. Kami senang bahwa ia merupakan kapten di kapal ini dan saya berharap ia bertahan untuk kurun waktu yang lama," jelasnya.

Kini Zidane tengah dihadapkan dengan final ketiganya secara beruntun, catatan ini serupa dengan yang didapatkan Lippi saat di Juventus 1996,1997 dan 1998.  Real Madrid bakal melawan 'Kuda Hitam' Liverpool pada Minggu 27 Mei 2018 di Stadion NSC Olimpiyskiy di Kiev, Ukraina.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More