Pantau Flash
Kemendikbud Sebut UN Akan Diganti Sistem Penalaran
88 Proyek Strategis Nasional Bernilai Rp421,1 Triliun Selesai Akhir 2019
Herry IP: Wahyu/Ade Tidak Jauh Berbeda dengan Marcus/Kevin dan Ahsan/Hendra
Dipermak Vietnam 0-3, Timnas U-22 Indonesia Gagal Raih Emas
Vokalis Roxette Meninggal Dunia Usai 17 Tahun Melawan Tumor

Mengenal Sejarah Cara Makan Steamboat, Ternyata Bukan Berasal dari Korea

Mengenal Sejarah Cara Makan Steamboat, Ternyata Bukan Berasal dari Korea Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Pernah makan di restoran dengan cara merebus dan memanggang bahan makanan sendiri? Jika menganggap metode makan itu berasal dari Korea, anggapanmu salah besar.

Baca juga: Indonesia Jadi yang Terluas, Ini 5 Negara Terkecil di Asia Tenggara

Melansir laman Korea Herald, Jumat (19/7/2019) mencelupkan alat makan ke dalam panci makanan secara beramai-ramai adalah praktik yang pada dasarnya tidak ada di Korea. Cara itu adalah kebiasaan makan pada zaman perang atau penjajahan yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan.

Sebenarnya cara makan dengan memasak di atas meja makan ini sudah dilakukan sejak dulu kala, tapi caranya tidak dilakukan dengan bersama melainkan satu meja satu orang hingga abad ke-20 tren makan bersama dalam satu panci kembali hits.

"Anggota keluarga kerajaan dan bangsawan makan malam di meja masing-masing. Bahkan di pesta besar dengan jamuan makanan para bangsawan makan di satu meja untuk satu orang," ujar Joo Young Ha, Antropolog di Akademi Studi Korea.

Joo mengatakan puncak penghapusan satu meja satu orang terjadi selama masa penjajahan Jepang, dimana bahan makanan menjadi lebih langka, dan sebagai bentuk mensyukuri makanan.

"Hidangan yang dapat memberikan makanan kepada lebih banyak orang dengan bahan-bahan terbatas menjadi populer selama perang Korea. Saat itulah berbagi makanan dari mangkuk yang sama menjadi hal biasa," jelasnya.

Baca juga: Tes Pengetahuan, Sudah Tahu Lima Negara Pendiri ASEAN?

Kebiasaan selama perang itu berlanjut hingga kini, dan tidak ada alasan spesifik  mengapa tradisi itu bisa bertahan hingga sekarang. Tapi sayangnya tren ini sayangnya sedikit populer dipakai para milenials Korea.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Dini Afrianti Efendi
Category
Ragam

Berita Terkait: