Pantau Flash
Tumbangkan Moekoena, Daud Yordan Juara Dunia Kelas Ringan
Dua Orang Terduga Teroris Ditangkap di Medan
Fakhri Husaini Bantah Pamit dari Timnas U-19
Bom Mobil Terjang Demonstrasi Anti Pemerintah di Irak, 4 Orang Tewas
Menangi Perang Saudara, Ginting ke Final Hong Kong Open 2019

Menilik Tarekat Mahaguru, Mengapa Jualan Surga Begitu Laku di Indonesia?

Menilik Tarekat Mahaguru, Mengapa Jualan Surga Begitu Laku di Indonesia? Mahaguru alias PL (berpakaian oranye) dijadikan tersangka kasus penodaan agama dan pencucian uang. (Foto: via ABC News)

Pantau.com - Sepotong kartu surga dibagi-bagikan kepada ratusan jamaah yang mengikuti Tarekat Ta'jul Khalwatiyah Syech Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Pemimpin tarekat ini, Puang La'lang yang telah diamankan polisi, menjanjikan keselamatan dunia-akhirat kepada para pengikutnya. Kata pakar sosiologi agama, Sulawesi memang menjadi hotspot kemunculan Nabi lokal.

Muhammad Rasdin Adam mulanya tak sengaja menemukan masjid asuhan Puang La'lang di Dusun Tamalate, Desa Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Gowa, Sulawesi Selatan. Saat itu, sekitar sebelas tahun yang lalu, ia hendak mencari masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jumat.

"Saya hanya kebetulan lewat situ pas hari Jumat, jadi saya mampir di masjidnya. Saya mampir karena saya lihat banyak jamaah, saya juga heran kok masjid kecil ini banyak jamaah sampai ratusan?, saya mampir sholat," kata dia, dikutip dari ABC News, Sabtu (9/11/2019).

Tak ada yang berbeda dari tata cara sholat di masjid itu, hanya saja sholat Jumat dilakukan tanpa pengeras suara, layaknya masjid-masjid umum lainnya. Seusai sholat jumat, Rasdin dihampiri oleh salah satu pengurus masjid. Ia ditanya apakah dirinya orang baru di lingkungan itu dan tujuan singgah di masjid mereka. Dianggap lolos menjawab sapaan, Rasdin-pun diajak berbincang lebih lanjut.

Saat itu juga ia menemukan keanehan namun ia mengaku tertarik menelusuri. "Obrolannya itu bahwa di sini itu salah satu perguruan, dipimpin seorang Mahaguru."

"Namanya Mahaguru itu Puang La'lang. Kebetulan saya memang pernah dengar namanya tapi sama orangnya sendiri belum pernah ketemu. Jadi niatan awal, saya ingin kenalan, begitu saja," tuturnya kepada ABC melalui sambungan telepon.

Rasdin menceritakan, orang yang mengajaknya bicara itu mengatakan bahwa setiap anggota di tarekat mereka akan selamat dunia-akhirat. "Saya justru jadi ingin tahu, selamat dunia akhirat itu bagaimana ya?

Baca juga: 5 Aliran Sesat di Bumi Ini yang Mengguncang Dunia, Ada dari Indonesia Bos

Tak lama setelah ia diajak mengobrol, sang Mahaguru naik mimbar untuk menyampaikan ceramah. Di situ, Rasdin merasa semakin heran.

"Ceramahnya itu yang menurut saya tidak masuk akal, habis sholat Jumat dianjurkan sholat Dhuhur dan sholat Ashar, digabung lagi, itu kan aneh. Tapi saya tidak lakukan, kan saya sudah sholat Jumat," ujarnya

Namun Rasdin terlanjur penasaran. Ia pun memutuskan untuk mengikuti acara pertemuan jamaah di minggu berikutnya. Total ada 4 kali pertemuan dalam durasi satu bukan yang ia ikuti, di mana puncaknya ia sempat dibaiat menjadi anggota tarekat. Ia mengisahkan proses baiat itu kepada ABC.

"Jadi dalam kamar tidurnya itu, kita antri satu-satu masuk, jadi lain kita masuk untuk dibaiat, lain (pintu) untuk keluarnya. Jidat kita itu ditulisi lafadz Allahu Akbar. Lalu di pintu keluar, berdirilah si Puang La'lang. Jadi semua jamaah saya lihat jabat tangan, kasih uang, begitu."

Setelah proses baiat, Rasdin juga ditawari kartu surga oleh salah seorang anggota tarekat. Kartu wipiq atau kartu surga yang dibagikan ke jamaah Tarekat Ta'jul Khalwatiyah.


Kartu wipiq atau kartu surga yang dibagikan ke jamaah Tarekat Ta'jul Khalwatiyah. (Foto: Istimewa)

"Kartu surga itu disampaikan oleh salah satu anggota bahwa harus bayar 250 ribu, tapi saya enggak bayar. Saya dikasih kartu dunia-akhirat itu ya saya ambil tapi enggak bayar."

"Tulisannya tulisan bahasa arab semua. Waktu saya dikasih ya bilangnya itu kartu supaya selamat sampai surga."

Rusdin mengaku ia sempat mendengar dari Puang La'lang bahwa kartu surga itu bisa ditebus seharga Rp 10-50 ribu, namun ia sendiri kebingungan mengapa ia justru dimintai ongkos pengganti Rp250 ribu.

Belasan tahun berlalu, Rasdin baru mengetahui bahwa si Mahaguru yang pernah ia temui telah ditangkap polisi. Tindakan polisi itu dilakukan setelah adanya laporan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gowa, September lalu.

Setelah dilakukan penyelidikan, pekan ini Polres Gowa menggelar konferensi pers dengan menampilkan barang bukti yang mereka sita dari kediaman Puang La'lang (74).

"Ada beberapa dugaan pasal yang disangkakan kepada bapak PL, yang pertama tentunya adalah dugaan penistaan agama, kemudian diduga juga melakukan penipuan penggelapan," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Gowa, Kompol Muhammad Fajri, kepada ABC (7/11/2019).

Kompol Fajri menambahkan, sudah ada 26 saksi yang telah dimintai keterangan oleh penyidik, dua di antaranya merupakan saksi ahli. Ada pula 317 lembar kartu Wipiq (kartu surga) yang diamankan. Menurut Ketua MUI Gowa, Abubakar Paka, laporan lembaganya ke polisi diawali oleh informasi warga tentang adanya perkumpulan atau tarekat Islam yang dianggan lain. "Mereka meyakini bahwa masih ada ayat di luar 30 juz yang telah diyakini dalam Al-Qur'an," sebutnya kepada ABC.

Dari fakta ini, MUI Gowa lalu melakukan investigasi mendalam dan menemukan fakta yang diakui serupa laporan warga.

Tim mereka lalu melakukan himbauan berulang hingga keluar fatwa di tahun 2016, dan muncul mediasi yang kemudian diakhiri laporan resmi ke polisi tahun ini.

Hotspot munculnya nabi

Pakar sosiologi agama yang juga guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Profesor Al-Makin, mengatakan kelompok-kelompok seperti tarekat pimpinan Puang La'lang itu tergolong new religious movement atau kelompok keagamaan baru.

Kartu surga yang menjadi andalan tarekat sang Mahaguru bisa begitu menarik banyak pengikutnya karena faktor karakteristik dasar orang Indonesia sendiri.

"Orang Indonesia ini dari dulu wataknya memang religius, terutama orang Jawa dan orang Bugis, orang Minang religius, apalagi orang Aceh. Dan tidak hanya dalam hal Islam, pada umunya masyarakat Indonesia ini religius."

Karenanya, kata Al-Makin, upaya kritik terhadap agama di Indonesia selalu gagal. Dan agama, menurutnya, selalu dijadikan amunisi oleh para politisi dan ditanggapi dengan antusiasi oleh masyarakat.

"Dan Sulawesi atau masyarakat Bugis dan sekitarnya itu termasuk hotspot."


Prof Al-Makin dari UIN Sunan Kalijaga. (Foto: Instagram/@uinsk)

"Hotspot kemunculan para nabi, para orang-orang yang mengaku nabi, itu orang-orang Bugis sangat kuat, sama dengan masyarakat Jawa dan Sunda, itu juga sama-sama kuat."

"Kenapa? mungkin karena religius. Selama kita masih religius ya itu akan muncul terus," terangnya kepada ABC.

Masalahnya, tuduhan penodaan agama sering disematkan dalam menghadapi kelompok-kelompok seperti itu.

"Itu enggak bisa disseat-sesatkan, itu pendekatan yang enggak tepat menurut saya. Pendekatannya adalah edukasi, pendidikan. Sesat-menyesatkan itu bukan solusi, itu justru menjadi bumerang itu. Itu sekali lagi tidak menghargai kebebasan beragama, tidak menghargai kreatifitas."

Baca juga: Diduga Gara-gara Rokok, Hutan Konservasi Gunung Salak Terbakar

Al-Makin menjelaskan Indonesia tidak akan pernah berhenti melahirkan Nabi. Dalam penelitian terbarunya, ia telah menemukan 1300 kelompok keagamaan semacam tarekat di Gowa.

"Berarti kan 1300 total kalau masing-masing ngaku ada nabi. Mau di fatwa apapun enggak bisa berhenti."

"Satu-satunya cara adalah dengan dipahami, kenapa mereka muncul, dipelajari, dan juga edukasi kepada masyarakat. Kalau disseat-sesatkan mereka tambah senang."

Ia berpendapat 1300 kelompok keagamaan baru ini memiliki persamaan kreatifitas. Kreatifitas yang dimaksud adalah keberanian mereka memadukan banyak ajaran, terutama ajaran tradisi lokal.

"Kita ini kan kaya sekali tradisi lokalnya. Bahasa kita banyak, tradisi kita banyak. Nah para Nabi baru ini biasanya memadukan hal yang lebih baru lagi. Mereka juga punya karakteristik yang sama dalam ilmu sosiologi yaitu keberaniannya memadukan suasana lokal dengan tantangan zaman yang saat ini ada."

Dalam agama mapan seperti Islam, Kristen, dan Hindu, sebut Al-Makin, banyak sekali ruang kreatifitas yang tertutup karena sudah ada ortodoksi, sehingga ruang interpretasi menajdi kecil.

"Sementara para Nabi kita, orang-orang yang mengaku Nabi, mengaku mendapat wahyu dan mendirikan kelompok baru, mereka ini punya daya kreatifitas yang tidak mungkin diwadahi oleh kelompok yang sudah mapan."

"Makanya mereka memilih jalan mendirikan sesuatu yang baru."

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Nasional