Forgot Password Register

Miliki Minyak Rapa, Uni Eropa Ngotot Tolak Minyak Sawit RI

Miliki Minyak Rapa, Uni Eropa Ngotot Tolak Minyak Sawit RI Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Bustanul Arifin (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) yang juga menjabat sebagai Ketua Focus Group Pangan dan Pertanian ISEI Pusat, Bustanul Arifin menjelaskan isu negative industri kelapa sawit ini sudah berlebihan.

Padahal bagi Indonesia, kelapa sawit memiliki prospek menjanjikan mengingat produktivitas petani kelapa sawit berkisar 2,8 ton per hektare untuk perkebunan rakyat dan 4,26 ton per hektare untuk perkebunan besar.

"Pada dasarnya 55 persen sawit kita yang diekspor ke Eropa itu kabarnya lebih matang tapi lebih baik lebih efisien daripada minyak rapa rapseed," ujarnya dalam sebuah diksuisi di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2019).

Baca juga: Malaysia Tuding Uni Eropa Luncurkan 'Perang Dagang' Minyak Sawit

Produktivitas kelapa sawit pun signifikan lebih besar dibandingkan dengan kedelai, sunflower, cotton seed, groundnut. Hal Ini dibuktikan dari total penggunaan lahan kelapa sawit yang hanya sebesar 6,6 persen mampu memproduksi 38,7 persen output. Sementara itu, area yang digunakan untuk menanam kedelai mencapai 9 kali lipat dari total lahan kelapa sawit.

"Tapi kita paham ini Eropa sendiri mereka ingin melindungi petani minyak rapa, bunga minyak rapa itu kan hamparan ya cukup luas dengan adanya sawit yang lebih efisien dalam menghasilkan minyak mereka terdesak dong," katanya. 

Menurutnya, pemakaian minyak dari rapa sudah mulai mengalami penurunan sehingga jika dibiarkan dianggap akan membebani industri yang ada di Eropa. 

"Dengan ada sawit mereka terbebani itu sebagai Uni Eropa yang mereka memproteksi  petani minyak rapanya sendiri" paparnya.

Kendati demikian kata dia, Indonesia harus tetap melakukan upaya-upaya dengan kampanye positif. Pasalnya kata dia kasus ini beberda dengan kasus sebelumnya sehingga harus lebih jeli menyelesaikannya. 

"Apakah kita menyerah dnega itu? Kita tetap melawan kita lawan dengan kampanye positif, pertemuan dagang, para diplomat bertemu negosiasi. Terus dilakukan. Kalau mentok mau tidak mau kita notifikasi ke WTO," katanya.

Baca juga: Minyak Sawit RI Disulap Jadi Energi Terbarukan, Eropa Panik!

Pasalnya kata dia, saar ini Eropa menahan impor dari Indonesia karena sawit Indonesia dianggap high risk dalam hal konversi lahan hutan menjadi sawit yang berakibat pada perubahan iklim. Sehingga dianggap tidak suistanable.

"Mereka cerdas karena dikembalikan pada permasalahan kita di dalam negeri," pungkasnya.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More