Pantau Flash
Ketua DPRD DKI: 31 Agustus Batas Terakhir Pemprov Urusi Pencari Suaka
Polri Klaim Situasi Papua Barat Kondusif
Kapolda: Kamtibmas Papua Sudah Kondusif dan Aman
Ibu Kota Indonesia Pindah ke Kalimantan Timur
Trump Serang Ford Karena Tak Mendukung Efisiensi Bahan Bakar

Mustahil WNI Bisa Jadi Bos di Australia? Jangan Kaget, Berikut Jawabannya

Mustahil WNI Bisa Jadi Bos di Australia? Jangan Kaget, Berikut Jawabannya Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Banyak para lulusan terbaik di Indonesia memilih untuk berkarir di luar negeri. Salah satu negara yang kerap jadi pilihan adalah Australia. Namun, apa iya orang Indonesia bisa sukses di negara orang?

Dikutip ABC, salah satu warga Indonesia yang sudah bekerja belasan tahun di Australia pernah juga mempertanyakannya, "apakah saya bisa jadi bos?"

Sudah hampir 15 tahun Mahendra,  bekerja di sebuah perusahaan penyedia teknologi bagi industri keuangan yang berpusat di kota Brisbane, Australia. Pria asal Surabaya tersebut mengaku jika saat ini dirinya sudah tidak lagi ingin mengejar karir, setelah melihat tertutupnya kemungkinan baginya mencapai puncak karir di perusahaannya.

"Saya tidak mengatakan Australia rasis, tetapi ada satu faktor yang membuat saya tetap berada di posisi yang sama dalam hampir 8 delapan tahun terakhir," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Baca juga: Mahalnya Biaya Sewa Kamar di Australia untuk Mahasiswa, Rp2 Juta per Minggu

Seringkali warga imigran hanya bisa menduduki posisi pemimpin level pemula dan tidak mengalami peningkatan.  Mahendra mengaku jika ia membandingkan karirnya dengan teman-temannya yang bekerja di Jakarta, banyak diantara mereka sudah mencapai puncak pimpinan perusahaan.

Sementara saat ini ia hanya mengepalai sebuah tim kecil yang menurutnya "tidak memiliki peran signifikan".

"Saya selalu ingin kembali ke Jakarta, tetapi susah juga mencari kerja karena beberapa perusahaan menyangka gaji saya sudah ketinggian," akunya.

Pengalaman Mahendra di tempat kerjanya menjadi refleksi soal data statistik terkait kepemimpinan perusahaan di Australia. 95 persen senior eksekutif atau setingkat CEO di Australia adalah berasal dari etnis Anglo-Celtic atau latar belakang Eropa, menurut Australian Human Rights Commission.

Baca juga: Platform Musik hingga Film Digital Kena Pajak di Australia, RI Belum Sentuh

Meski 24 persen dari seluruh warga Australia memiliki latar belakang Aborigin atau bukan Eropa, hanya lima persen yang berada di puncak kepemimpinan perusahaan. Persepsi etnis tertentu hanya cocok jadi pekerja. Sementara hasil penelitian lainnya di Australia menembukan pemimpin eksekutif yang berasal dari etnis selain Eropa, 33 persen lebih mungkin mengungguli rekan-rekan lainnya.

"Satu faktor signifikan adalah adanya asumsi soal pekerja mana yang pas untuk jadi pemimpin," ujar Race Discrimination Commissioner Chin Tan.

"Tentu saja asumsi-asumsi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan," tambahnya.

Apa yang dialami Mahendra juga dialami Elanor, warga asal Hong Kong yang bekerja di sebuah firma hukum. "Salah satu persepsi yang dimiliki orang, terutama di bidang hukum, adalah kita (orang Asia) adalah pekerja keras, kita adalah yang bekerja (bukan pemimpin)" ujarnya.

"Kita jarang sekali disebut sebagai "oh mereka adalah pemimpin yang baik, ayo promosikan mereka," pungkasnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi