Pantau Flash
Rp54 Juta dan 2.600 Dolar AS Disita KPK dari Rumdin Bupati Lampung Utara
Pasca Diserang, Raja Salman Sepakat Tambah Pasukan Militer AS
Juarai F1 GP Jepang, Bottas Antar Mercedes Kunci Gelar Juara Konstruktor
7 Paus Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Nusa Tenggara Timur
Tampil Lawan Norwegia Semalam, Sergio Ramos Pecahkan Rekor Lampaui Casillas

Neraca Perdagangan Surplus, Menko Darmin Tak Happy?

Headline
Neraca Perdagangan Surplus, Menko Darmin Tak Happy? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Instagram/perekonomianri)

Pantau.com - Neraca Perdagangan Indonesia Februari 2019 mengalami surplus USD0,33 miliar atau Rp4,62 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS). Dipicu oleh surplus di sektor non migas USD0,79 miliar atau  Rp11,06 triliun namun sektor migas defisit USD0,46 miliar atau Rp6,33 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, meski mengalami perbaikan namun angka tersebut belum memastikan adanya situasi yang berkelanjutan.

"Neraca perdagangannnya positif, walaupun tahun lalu juga bulan itu ya positif, artinya memang kita belum melihat sebetulnya kita bisa membuat hasil-hasil yang sudah bisa jadi pegangan; bahwa situasinya bisa secara berkelanjutan lebih baik," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (15/3/2019).

Baca juga: Isu Panas Ketenagakerjaan di Debat Ketiga Pilpres 2019

Darmin mengungkapkan hal ini menunjukkan bahwa kerja keras yang dilakukan saat ini belum cukup. Terutama upaya untuk neraca perdagangan dalam kondisi baik secara konsisten.

"Jadi kelihatannya kerja kerasnya masih belum cukup, artinya masih perlu bekerja lebih keras lagi untuk membuat satu ya neraca perdagangan dan neraca berjalannya bisa lebih konsisten lebih baik," paparnya. 

Baca juga: Apa Iya Indonesia Masih Untung Ambil Alih Freeport? Ini Jawabannya

Ia juga mengingatkan perbaikan neraca dagang harus diiringi dengan aspek lainnya. Sebab kata dia, jika hanya memperhitungkan aspek neraca perdagangan tentunya akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. 

"Jangan sampai pula hasil yang di satu pihak lebih baik karena neraca perdagangan positif, tapi jangan sampai nanti pertumbuhannya terpengaruh pula," pungkasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: