Forgot Password Register

Panas, Keponakan Menpora Sri Lanka Hujat Kepolisian Federal Australia

Panas, Keponakan Menpora Sri Lanka Hujat Kepolisian Federal Australia Mohamed Nizamdeen. (Foto: Facebook/Mohamed Nizamdeen)

Pantau.com - Seorang mahasiswa PhD pada University of New South Wales (UNSW) Muhammad Kamer Nizamdeen yang telah dibebaskan dari tuduhan terorisme, kini mengecam tindakan Kepolisian Federal Australia (AFP) terhadap dirinya.

Mahasiswa asal Srilanka ini ditangkap dan ditahan selama empat minggu dalam sel isolasi dengan tuduhan pelanggaran terorisme pada Agustus 2018. Namun pada bulan September, polisi mencabut tuduhan atas Nizamdeen. Pasalnya, satu-satunya bukti yang dimiliki polisi tak dapat dibuktikan sebagai milik tersangka, yang juga keponakan Mepora Sri lanka itu

Pakar tulisan tangan yang diajukan polisi tak bisa membuktikan bahwa catatan rencana serangan teror di sebuah buku tulis merupakan tulisan Nizamdeen. Catatan tersebut berisi rencana membunuh PM Malcolm Turnbull dan Menlu Julie Bishop yang masih menjabat ketika itu.

Berbicara ke media untuk pertama kalinya sejak dibebaskan dari status tersangka,  Kepada media kota kelahirannya Kolombo, dia mengatakan metode yang dijalankan amatiran, tak profesional dan tak bertanggung-jawab.

"Memalukan dan bahkan bias. Saya sangat yakin hal ini terjadi karena saya orang Asia dengan visa pelajar," ujar pria berusia 25 tahun ini. Dan AFP keliru jika menganggap saya tak memiliki sumber daya atau kemampuan membela ketidakbersalahan saya ini," kata Nizamdeen.

Baca juga: Tersangka Teroris yang Ditangkap di Sydney Keponakan Menpora Sri Lanka

"Setelah saya dituntut dan ditahan, satu-satunya yang menggembirakan saya yaitu kepercayaan pada sistem peradilan Australia, yang sangat independen terhadap Kepolisian Federal Australia," tambahnya.

Kasus ini juga melibatkan Tim Gabungan Anti Terorisme NSW (JCTT).

Polisi menuduh Nizamdeen memiliki cetak biru serangan teror terhadap beberapa lokasi "simbolis" di Sydney. Dia ditangkap tim JCTT di daerah Kensington di pinggiran Sydney pada bulan Agustus. Menurut Nizamdeen, dirinya tetap bersikukuh ke penyidik bahwa tulisan tangan di buku tersebut bukan tulisannya.

Menurut penyidik, cetak biru rencana serangan itu ditemukan di buku catatan yang berada di atas meja yang digunakan Nizamdeen di tempat kerjanya di kampus UNSW.

"Setelah delapan jam diinterogasi, para penyidik berpikir hal itu sudah cukup untuk menuntutku di bawah hukum Australia yang kejam," kata Nizamdeen.

"Hal itu mereka lakukan setelah saya berkali-kali menolak bahwa tulisan tangan itu milik saya," tambahnya.

Namun, menurut Nizamdeen, hal yang lebih mengerikan justru terjadi setelahnya.

Dia merujuk kepada liputan media atas penangkapannya serta jumpa pers yang digelar polisi terkait penangkapan tersebut. Liputan yang dia maksud termasuk laporan The Daily Telegraph dengan judul "Tampang Terorisme".

Baca juga: Berkaitan dengan ISIS, Bomber Stasiun Ketera Bawah Tanah New York Divonis Bersalah

Laporan koran tersebut disertai foto mahasiswa ini dengan ilustrasi mengenakan keffiyeh gaya Timur Tengah dan kacamata hitam. "Buku itu ditemukan di ruang kantor yang tidak saya pakai selama lebih dari sebulan," katanya.

Nizamdeen sedang menyelesaikan PhD sekaligus bekerja di bagian TI Universitas NSW. Menurut dia, penahanannya telah merugikan keluarganya. Dia tak dapat menghubungi mereka selama sebulan setelah ditangkap.

"Butuh enam hari sebelum pengacara bisa menghubungiku. Saya tidak bisa kontak dengan dunia luar selama enam hari, suatu pelanggaran hak asasi dan hak dasar manusia," katanya.

"Permasalahan ini jelas menghancurkan masa depanku. Saya kini kembali ke Srilanka untuk melanjutkan kehidupanku," tambahnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More