Forgot Password Register

Para Tokoh Bacakan Puisi dalam Peringatan 20 Tahun Reformasi

Para Tokoh Bacakan Puisi dalam Peringatan 20 Tahun Reformasi Para tokoh peringati 20 tahun reformasi (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - Memperingati 20 tahun reformasi, para tokoh berlomba-lomba membacakan puisi hasil karya para aktivis reformasi. Dari Ketua DPR, menteri-menteri Jokowi, hingga aktor Reza Rahardian turut membacakan puisi pada acara itu.

"Dari reformasi lahirlah Jokowi sebagai Presiden, lahirlah saya sebagai Ketua MPR dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai Ketua DPR, di pemerintah yang kurang sana sini perlu kita sempurnakan. Maaf-maaf kalau baca puisinya tadi pas-pasan," ujar Ketua MPR RI Zulkifli Hasan ditutup tawa usai membacakan puisi bersama Bamsoet di Gedung Pustakaloka, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Zulhas bersama dengan Bamsoet melakukan duet baca puisi karya W.S Rendra dengan judul Burung Merak, yang dibacakan secara bergilir.

Tidak hanya keduanya, ada pula Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahadjo yang membacakan puisi Wiji Thukul berjudul Tanah, Menteri Pembangunan Desa Tertinggal (PDT) Eko Putro Sanjoyo bacakan Wiji Thukul-Sajak Suara.

Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membacakan puisi karya Wiji Thukul berjudul Bunga dan Tembok, Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Hanif Dhakiri puisi karya ciptaannya dengan judul Kekasih, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang sempat menangis saat membacakan puisi buah tangan Sapardi Joko Darmono puisi tentang Marsinah, buruh perempuan yang tewas dibunuh 25 tahun lalu.

Tidak hanya para pejabat, dalam acara itu hadir juga para pelaku seni yakni Morgan Oey yang bacakan sajak Djoko Pinurbo berjudul Baju Baru. Aktor Reza Rahardian bacakan puisi Widji Thukul - Nyanyian Abang Becak, dan Lukman Sardi dengan karya Widji Thukul berjudul Peringatan.

"Cerita tentang 1998, saya termasuk alumni Trisakti. Reformasi peristiwa yang tidak akan terlupakan, reformasi adalah terbaik yang disesalkan korban yang banyak, ini sesuatu yang tidak perlu terjadi lagi, karena tidak baik buat anak cucu kita," tutur Lukman Sardi sebelum membacakan puisinya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More