Pantau Flash
Australia Terancam Dengan Model Jualan Daging Lewat Medsos di Indonesia
JK: Masyarakat Papua Diharapkan Terima Permintaan Maaf Gubernur Khofifah
Imbas Perang Dagang, China Mulai Kurangi Impor Emas Hingga 500 Ton
OTT Yogyakarta: KPK Bawa 5 Orang ke Jakarta untuk Diperiksa
G7 Adakan KTT di Tengah Kepanikan akan Perekonomian Global

Pasar Ramadhan di Australia Sumbang Rp50 Miliar Ekonomi Warga Lokal

Pasar Ramadhan di Australia Sumbang Rp50 Miliar Ekonomi Warga Lokal 20 persen warga di Lakemba adalah Muslim, menjadi kelompok agama terbesar di kawasan tersebut. (Foto: ABC Sydney,/John Donegan)

Pantau.com - Budaya 'ngabuburit' sepertinya tak hanya terjadi di Indonesia. Ngabuburit tak hanya soal jalan-jalan nunggu magrib, mencari makanan untuk berbuka juga kerap disebut ngabuburit. Uniknya di Australia juga ada kebiasaan itu, yang terkenal adalah Kawasan Lakemba di kota Sydney dikenal sebagai salah satu daerah yang kebanyakan warganya adalah Muslim. Di malam bulan Ramadhan, Lakemba menggelar pasar malam yang mungkin jarang ditemukan di kawasan lainnya di Australia.

Lakemba, kawasan yang bisa ditempuh sekitar 30 menit menyetir dari pusat kota Sydney, terasa sepi di siang hari saat bulan puasa.

Tapi menjelang buka puasa, jalanan utama di Lakemba berubah menjadi tempat yang sangat ramai dan sibuk dengan didatangi bukan saja oleh warga Muslim.

Baca juga: Trump, China Kecewa Dituding Ingkari Janji Negosiasi Perang Dagang

Setiap malamnya di bulan Ramadan, Lakemba menggelar pasar malam 'Ramadan Nights', yang tahun 2019 ini menjadi tahun yang ke-19.

Khal Asfour, Mayor dari City of Canterbury Bankstown mengatakan kepada ABC Indonesia jika acara yang digelar setiap tahun ini bertujuan untuk merayakan keberagaman di Lakemba.

"Ini menjadi contoh bagaimana kita menarik warga dari berbagai kalangan di seluruh Sydney, untuk datang bersama dan saling menghargai, merasakan budaya dan kuliner yang berbeda dari penjuru dunia," ungkapnya seperti dikutip ABC.

Tahun ini, lebih dari 70 penjual makanan menawarkan kuliner dari Bangladesh, Mesir, Malaysia, Meksiko, Timur Tenggah dan masih banyak lagi.

Salah satu food blogger asal Indonesia yang kini menetap dan bekerja di Sydney mengatakan keunikan festival makanan di Lakemba Ramadan Nights adalah karena buka sampai larut setiap malam.

"Biasanya di Sydney semua tutup jam 6 sore, jadi ini merupakan fenomena yang cukup menarik," ujar Ardi Pradana.

"Semakin dekat ke hari raya Idul Fitri, terutama di Haldon Street, akan makin banyak pengunjungnya  bahkan sampai polisi harus menutup akibat membludaknya pengunjung," tambahnya.

Sebagai seorang food blogger, Ardi mengatakan ada beberapa makanan yang selalu menjadi incarannya. Diantaranya adalah Sahlab, minuman khas Timur Tengah yang disajikan hangat dan menurut Ardi sangat cocok untuk dinikmati saat musim dingin di Sydney.

Baca juga: Ada 11 Proyek Strategis Topang Lifting Migas Tahun 2019

Kemudian Knafeh, makanan yang biasanya jadi hidangan cuci mulut yang terbuat dari semolina dan keju dengan taburan pistachio.

Hingga sejumlah makanan lainnya, seperti daging bakar, lengkap dengan jeroan, kebab, martabak, tandoori chicken, hingga kopi Turkey yang dibuat diatas pasir yang panas.

"Enggak cukup sehari buat mencicipi semua yang disajikan di sana," kata Ardi.

Ardi mengatakan tahun lalu pernah ada warga Indonesia yang ikut berjualan makanan, tetapi lokasi mereka kurang strategis sehingga tidak cukup menarik orang mengunjunginya.

Data City of Canterbury Bankstown menunjukkan 350 ribu orang hadir ke acara tersebut tahun lalu, dengan sumbangan ke perekonomian lokal mencapai AU$ 5 juta, atau lebih dari Rp50 miliar.

"Kita bangga bagaimana komunitas kita menghargai budaya dan agama yang berbeda dan hidup dalam keharmonisan setiap harinya dan acara ini terus mempromosikannya," pungkasnya.


Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: