Forgot Password Register

Headlines

Pelaku Pasar Tunggu Gebrakan Ekonomi Capres-Cawapres

 Pasangan capres dan cawapres 2019 (Ilustrasi Pantau.com/Fery Heryadi) Pasangan capres dan cawapres 2019 (Ilustrasi Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Pelaku pasar masih menebak-nebak arah kebijakan ekonomi dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk mengatasi masalah struktural dan fundemental perekonomian domestik.

Siapapun capres-cawapres yang menang, menurut Ekonom INDEF Bhima Yudhistira, pasangan pemimpin Indonesia lima tahun mendatang kelak harus memiliki tim ekonomi yang kuat.

Jangan sampai permasalahan ekonomi dinomorduakan atau dikesampingkan karena lebih mementingkan permasalahan populis karena ingin merebut simpati rakyat.

Baca juga: Rayakan Kemerdekaan, Garuda Diskon 25 Persen Harga Tiket

"Permasalahan ekonomi saat ini tidak kalah penting dengan persoalan identitas. Pelemahan kurs rupiah, tekanan terhadap daya beli masyarakat, kondisi global yang dinamis, dan lemahnya kinerja ekspor mendesak untuk dicari solusinya," jelas Bhima.

Calon Petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan partai koalisinya mengesampingkan Mahfud M.D dan akhirnya memilih ulama Ma'ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nadhalatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indoensia (MUI), sebagai cawapres.

Sementara itu, mantan petinggi militer Ketua Umum Partai oposisi Gerindra, Prabowo Subianto, kembali mencalonkan diri setelah kalah dalam dua kali Pemilu Presiden. Prabowo memiliih Sandiaga Uno, mantan birokrat yang juga kenyang pengalaman sebagai pengusaha dan bankir investasi, plus pernah menyandang predikat sebagai salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia.

Baca juga: Deretan Pengusaha yang Kepincut Jadi Politisi (Bagian II)

Bhima menilai pasar masih akan "wait and see" untuk bereaksi hingga pasangan Jokowi-Maaruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno mengungkapkan arah kebijakan ekonominya.

Beberapa masalah ekonomi yang perlu menjadi prioritas pasangan capres-cawapres, lanjut dia, di antaranya adalah, depresiasi nilai tukar rupiah yang sudah mencapai enam persen sejak awal 2018. Pelemahan nilai tukar ini telah berdampak kepada sektor riil, karena beban korporasi untuk belanja impor semakin tinggi, yang pada akhirnya beban itu bisa dikonversikan menjadi biaya yang harus ditanggung konsumen.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More